bisnis
BONGKAR Modus Beras Premium Abal-abal Harga Mahal, Total Kerugian Capai Rp 10 Triliun
Untuk meredam harga di beberapa wilayah, Bulog berkomitmen untuk mempercepat penyaluran bantuan pangan.
TRIBUN-BALI.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) membongkar praktik curang mafia pangan terkait manipulasi kualitas beras premium di pasar. Praktik ini ditaksir telah merugikan konsumen hingga mencapai Rp 10 triliun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, modus yang dilakukan para pelaku adalah dengan mengemas beras kualitas rendah atau beras dengan tingkat patahan (broken) tinggi, namun dijual dengan label harga beras premium yang mahal. “Bukan sekadar oplos, ini nyolong. Saya sudah periksa di laboratorium, ini hasil temuan dari para middleman,” ujar Amran seperti dilansir Kontan.co.id, Minggu (26/4).
Berdasarkan hasil uji laboratorium, Amran menjelaskan bahwa standar beras premium seharusnya hanya memiliki tingkat patahan maksimal sebesar 14 persen. Namun, di lapangan ditemukan beras yang diklaim premium ternyata memiliki tingkat patahan antara 34 % hingga 59 % .
Baca juga: WNA Irlandia Ditemukan Tewas di Villa Kerobokan, Ada Tulisan Tertempel di Pintu Kamar
Baca juga: Hendak Nyeberang, Nyoman Kasub Jadi Korban Tabrak Lari di Jembrana, Alami Patah Tulang
Secara hitungan ekonomi, beras dengan spesifikasi rendah tersebut seharusnya dibanderol di kisaran harga Rp 8.000 per kilogram (kg). Namun, para spekulan menjualnya kepada masyarakat dengan harga Rp 17.000 per kg.
“Artinya, harga Rp 8.000 dijual Rp 17.000. Kalau kita ambil hitungan moderat dengan harga Rp 12.000 saja, ada selisih Rp 5.000 per kg. Jika volume beras tersebut mencapai 2 juta ton, maka kerugian konsumen mencapai Rp 10 triliun," papar Amran.
Ia menambahkan, jika melihat total peredaran komoditas tersebut secara keseluruhan, nilai kerugian akibat manipulasi harga ini bahkan bisa menembus angka Rp 100 triliun. Amran menegaskan bahwa tindakan ini adalah bentuk penipuan terhadap rakyat secara masif.
Menanggapi hal tersebut, Kementan bersama Satgas Pangan telah mengambil langkah hukum yang tegas. Beberapa pelaku dilaporkan sudah ditahan dan menjalani proses hukum.
“Pilihannya, mana yang lebih kejam? Memberantas 100 orang mafia, atau membiarkan mafia dan koruptor lewat sementara rakyat ditipu? Bersama Satgas Pangan, kami tindak tegas satu-satu,” pungkasnya.
Sementara itu, Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pangan Provinsi Bali melaksanakan langkah antisipatif dengan menggelar serangkaian inspeksi mendadak (sidak) yang menyasar pasar tradisional, ritel modern, hingga distributor besar.
Seperti pada Sabtu (25/4) kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Ditreskrimsus Polda Bali, Badan Pangan Nasional, Bulog Kanwil Bali, serta dinas terkait di lingkungan Pemprov Bali menyisir Pasar Kreneng, Denpasar. Tim memantau secara langsung fluktuasi harga di tingkat pedagang.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy menjelaskan, pengawasan intensif ini merupakan respons cepat pemerintah untuk menjamin keterjangkauan harga bagi masyarakat. Fokus pemantauan tim Satgas meliputi komoditas strategis seperti beras, telur, minyak goreng, kedelai, gula, jagung, cabai, bawang, hingga daging sapi dan ayam.
“Pengawasan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga wajar dan kualitas yang baik,” kata Kombes Pol Ariasandy, pada Minggu (26/4).
Sebelumnya, pada Kamis (25/4) tim juga melakukan penelusuran alur distribusi di sejumlah titik-titik lain mulai dari Toko Kamila dan Warung Bumbu Ibu Gek Sri di Pasar Kreneng, hingga distributor besar seperti UD.
Cipta Agung Unggas di Penatih dan ritel modern Supermarket Grand Lucky di Jalan PB Sudirman. Upaya ini untuk memastikan tidak ada oknum pelaku usaha yang memanfaatkan situasi global untuk melakukan spekulasi harga.
Kombes Pol. Ariasandy menegaskan, Satgas tidak akan segan mengambil tindakan hukum bagi pelaku usaha yang terbukti menjual komoditas di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Pengawasan ini tidak hanya berhenti pada harga, tetapi juga menyentuh aspek keamanan dan mutu pangan yang beredar.
| WADUH, Biaya Produksi Otomotif Naik, Terdampak Nilai Tukar Rupiah |
|
|---|
| Siasat Amankan Rantai Distribusi Nasional di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global |
|
|---|
| Dirut Utama BSI Beri Bibit Pohon Anthurium Kepada Nasabah di Bali, Ini Pesan yang Disampaikannya! |
|
|---|
| KHAWATIR Pelanggan Kabur, Pedagang Pilih Untung Tipis Usai Harga Plastik Naik! |
|
|---|
| PLN EPI Hadapi Bangun Ekosistem Biomassa agar Lebih Banyak Masuk ke Pembangkit Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Satgas-Saber-Pangan-Provinsi-Bali-sidak-di-pasar-tradisonal-distributor-hingga-ritel-modern.jpg)