Nilai Tukar Rupiah
Rupiah di Level Terlemah, Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 17.300 Per Dolar AS
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai memberi tekanan signifikan
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai memberi tekanan signifikan ke pasar keuangan domestik.
Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil menguat pada akhir perdagangan hari Jumat (24/4/2026) kemarin.
Rupiah ditutup di level Rp 17.229 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menguat 0,33 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.286 per dolar AS.
Meski menguat di akhir pekan, tekanan terhadap rupiah sepanjang minggu masih cukup signifikan. Bahkan, pada Kamis (23/4) pukul 09.35 WIB, rupiah sempat menembus level Rp 17.310 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang masa alias all time high (ATH).
Baca juga: Dampak Ketegangan Geopolitik Global, Rupiah Tembus 17.105 Per Dolar AS, Nilai Tukar Melemah
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan, level tersebut tidak lagi dipandang sebagai fluktuasi harian biasa, melainkan sinyal stres di pasar. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan Indonesia. Efek pertama muncul di pasar obligasi.
Investor asing cenderung meminta premi risiko lebih tinggi saat rupiah melemah tajam, sehingga yield Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik dan harga obligasi tertekan.
“Investor asing cenderung meminta premi risiko lebih tinggi saat rupiah melemah tajam, sehingga yield SBN berpeluang naik dan harga obligasi tertekan,” ujar Syafruddin, Kamis (23/4).
Baca juga: Gianyar Bali Diprediksi Kehilangan Miliaran Rupiah Di Mei 2026, Dampak Perang Timur Tengah
Tekanan kemudian merembet ke pasar saham, terutama pada emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, utang dalam valuta asing, serta permintaan domestik yang sensitif terhadap inflasi. Selain itu, pelemahan rupiah juga mendorong pergeseran dana ke aset berbasis dolar AS dan instrumen lindung nilai.
Akibatnya, likuiditas rupiah di pasar keuangan berisiko mengetat. Jika depresiasi berlangsung berkepanjangan, dampaknya bisa meluas ke inflasi impor, margin korporasi, hingga peningkatan biaya utang.
“Pada titik itu, pasar keuangan tidak lagi menghadapi koreksi biasa tetapi fase penyesuaian valuasi yang lebih berat,” jelasnya.
Dari sisi penyebab, Syafruddin menilai konflik di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.
Namun demikian, ia menekankan bahwa faktor domestik juga berperan. Hal ini tercermin dari pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan mata uang regional lainnya seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand.
“Artinya pasar juga menilai faktor domestik seperti fiskal, kebutuhan pembiayaan, dan kredibilitas kebijakan ikut memengaruhi premi risiko,” katanya.
Intervensi Pasar Valuta Asing dan Obligasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/MENATA-seorang-karyawan-bank-menata-uang-rupiah-di-bank-yang-ada-di-Jakarta.jpg)