Idul Adha
Dibeli Rp162, 4 Juta, Cetak Sapi Jumbo Langganan Presiden, Pelihara di Kandang Sederhana di Buleleng
Tahun ini, salah satu sapi peliharaannya kembali terpilih sebagai hewan kurban Presiden RI dengan bobot mencapai 868 kilogram.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Di balik kandang sederhana miliknya di Banjar Dinas Pondok, Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, Ketut Sukata berhasil “mencetak” sapi-sapi jumbo langganan presiden.
Tahun ini, salah satu sapi peliharaannya kembali terpilih sebagai hewan kurban Presiden RI dengan bobot mencapai 868 kilogram.
Sukata mengaku memelihara sapi bukan sekadar pekerjaan, melainkan hobi yang sudah dijalani sejak kecil. Karena itu, ia tak pernah menargetkan sapinya harus dibeli presiden.
"Dari kecil saya sudah biasa pelihara sapi karena bapak saya juga petani sekaligus peternak," ujar Sukata saat ditemui di kandangnya, Kamis (14/5).
Baca juga: PULUHAN Lansia Semarak Ikuti Lomba Senam dalam Rangkaian Peringatan Bulan Bung Karno
Baca juga: TENGKAR dengan Pacar, Penghuni Kos di Gianyar Hubungi 112, Polisi Turun Tangan, Ini Masalahnya!
Kandang milik Sukata terlihat sederhana, bahkan tak jauh berbeda dengan kandang milik warga kebanyakan. Namun dari kandang inilah lahir sapi-sapi jumbo bernilai ratusan juta rupiah.
Saat ini terdapat empat ekor sapi di kandangnya. Salah satunya baru saja terjual Rp162,4 juta setelah dibeli untuk kedua kalinya sebagai sapi kurban Presiden RI, Prabowo Subianto.
Sementara tiga sapi lainnya belum dijual karena dianggap belum cukup umur. Salah satu sapi berusia dua tahun bahkan sudah memiliki bobot mencapai 498 kilogram.
Sedangkan dua sapi lainnya yang masih berusia di bawah setahun belum pernah ditimbang. Meski begitu, Sukata memperkirakan bobotnya sudah mendekati 100 kilogram.
Menurut Sukata, bibit sapi Bali berkualitas unggul kini semakin sulit ditemukan. Kondisi itu membuat jumlah peternak yang serius membudidayakan sapi Bali, khususnya sapi Buleleng, semakin sedikit. "Di desa saya saja, cuma saya yang masih telaten memelihara sapi sampai sebesar ini," katanya.
Ia menjelaskan, sapi jumbo miliknya dibeli saat masih berusia enam bulan dengan bobot belum mencapai 100 kilogram.
Ketika itu, ia membelinya seharga Rp11 juta. Setelah hampir empat tahun dipelihara, bobot sapi tersebut kini menembus 868 kilogram.
Menariknya, pria 59 tahun itu mengaku tidak memberikan perlakuan khusus dalam perawatan sehari-hari. Pakan utama sapi hanya berupa rumput dan tambahan dedak sekitar 3 hingga 4 kilogram per hari.
"Makanan pokoknya rumput. Selain itu saya beri dedak dan tambahan air. Tidak ada treatment khusus lainnya," jelasnya.
Menurutnya, faktor terpenting untuk menghasilkan sapi berbobot besar terletak pada pemilihan bibit sejak awal. Peternak harus pandai memilih bibit, terutama yang memiliki postur tubuh tinggi dan tulang besar. Setelah itu baru soal pemeliharaan.
Dalam perawatan harian, sapi rutin dikeluarkan dari kandang setiap pagi dan dimandikan. Hal itu dilakukan untuk menjaga kekuatan kaki sapi agar mampu menopang bobot tubuhnya dan terhindar dari cedera. "Kalau sapi cedera, harganya bisa turun," katanya.
| Jelang Idul Adha, Distan Denpasar Akan Lakukan Pemeriksaan Hewan Kurban Mulai 19 Mei |
|
|---|
| Hendak Dikirim ke Lampung, 25 Sapi Tertahan di Gilimanuk Bali Karena Dokumen Palsu |
|
|---|
| 2.000 Ekor Sapi Terkirim ke Luar Bali, Idul Adha 2026, Sapi Gianyar Diburu Pasar Luar Bali |
|
|---|
| Idul Adha 2026, Sapi Gianyar Diburu Pasar Luar Bali |
|
|---|
| LIBUR Idul Adha, Bandara Ngurah Rai Bali Layani 344 Ribu Lebih Penumpang, Naik 1,5 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ketut-Sukata-saat-ditemui-di-kandang-sapi-sederhana-miliknya.jpg)