Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Siwaratri Dilaksanakan Dengan Jagra Hingga Puasa, Persembahyangan Digelar di Jagatnatha Denpasar

Untuk di Denpasar, ada tiga pura yang biasanya selalu ramai didatangi pemedek saat malam Siwaratri.

Tayang:
ISTIMEWA
Ilustrasi sembahyang - Siwaratri Dilaksanakan Dengan Jagra Hingga Puasa, Persembahyangan Digelar di Jagatnatha Denpasar 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sabtu 17 Januari 2026, umat Hindu di Bali menggelar perayaan Siwaratri.

Siwaratri dilaksanakan setiap setahun sekali, tepatnya pada Purwani Tilem Kapitu.

Hari ini merupakan payogan Sang Hyang Siwa dan dipercaya saat malam Siwaratri sebagai malam yang paling gelap.

Pelaksanaan Siwaratri berkaitan erat dengan kisah seorang pemburu bernama Lubdaka dalam Kekawin Siwaratrikalpa.

Baca juga: Kokomad Berdonasi Ikan Koi di Pura Jagadnatha Denpasar, Angga: Koi Itu Indah dan Layak Dipelihara

Dalam melaksanakan Siwaratri ini, umat akan melaksanakan brata mulai dari puasa, jagra, maupun ada yang melaksanakan mona brata.

Untuk merayakan Siwaratri ini, biasanya saat malam Siwaratri umat atau pemedek akan sembahyang ke pura.

Adapula yang memilih untuk melakukan pakemitan di pura tersebut.

Untuk di Denpasar, ada tiga pura yang biasanya selalu ramai didatangi pemedek saat malam Siwaratri.

Ketiga pura itu yakni Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Pura Campuhan Windu Segara, dan Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap.

Untuk di Pura Jagatnatha Denpasar, persembahyangan Siwaratri akan dilakukan pukul 18.00 Wita.

Persembahyangan ini rencananya akan dihadiri langsung Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara.

Untuk diketahui, persembahyangan Siwaratri di Kota Denpasar akan dilaksanakan tiga kali.

Yakni pukul 18.00 Wita saat sandikala, pukul 00.00 tengah malam, dan pukul 06.00 pagi keesokan harinya.

Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara menekankan bahwa Hari Suci Siwaratri merupakan momen untuk memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam prabawanya sebagai Dewa Siwa.

Sehingga pada hari ini sangat baik merenungi segala perbuatan yang telah dilaksanakan atau lebih dikenal dengan malam peleburan dosa.

Momentum Hari Siwartari hendaknya dilakukan dengan  mulat sasira dan introspeksi untuk menjadi lebih baik ke depanya.

Jaya Negara mengatakan, jika dilihat dari dua suku kata yakni Siwa dan Ratri, maka dapat diartikan sebagai upaya penyucian terhadap kegelapan diri.

Dengan demikian umat manusia dapat menjalani swadarma kewajibannya dengan baik dan selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa Tuhan Yang Maha Esa.

"Tentunya Hari Siwaratri harus diisi dengan kegiatan yang positif dengan kesadaran, seperti Dharma Tula, Monobrata, Jagra, Upawasa, Mulat Sarira dan mengendalikan Panca Indra sebagai wujud wiweka umat Hindu, sehingga mampu merenungi perjalanan diri untuk lebih baik lagi ke depannya," kata Jaya Negara. (*)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved