Berita Denpasar
Okupansi Hotel di Sanur Bali Tembus 75 Persen, Lonjakan Dolar Jadi Stimulus Kunjungan Wisman
stabilitas permintaan (demand) terhadap Sanur ditopang oleh perbaikan infrastruktur kawasan yang masif oleh pemerintah
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Tingkat keterisian kamar atau okupansi kawasan pariwisata Sanur, Denpasar, menunjukkan tren positif menjelang musim puncak kunjungan jelang high season.
Penguatan mata uang dolar terhadap rupiah dinilai menjadi salah satu faktor stimulus yang meringankan biaya berlibur wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali, di tengah bayang-bayang kenaikan biaya energi global.
Direktur Santrian Beach Cottage, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, mengungkapkan bahwa rata-rata keterisian kamar hotel di kawasan Sanur saat ini berada di angka 75 persen, sebuah pencapaian yang tergolong tinggi untuk periode sebelum high season.
Bahkan, untuk jaringan Santrian Group sendiri, tingkat okupansi telah menyentuh angka 90 persen.
Baca juga: Nilai Dolar Naik Bukan Sekadar Untung Selisih Kurs, Eksportir Kerajinan Bali Hadapi Dilema Produksi
"Sanur mempunyai okupansi mungkin di atas rata-rata teman-teman yang lain. Sekarang ini bukan high season, ini baru memasuki ya. High season kami mungkin nanti di bulan Juli, Agustus, September, Oktober. Nah, pada awal sekarang saja Sanur rata-rata 75 persen. Kalau kami saat ini 90 persen di Griya Santrian ini dan Santrian Group yang lainnya," ungkapnya, Selasa 26 Mei 2026.
Menurutnya, stabilitas permintaan (demand) terhadap Sanur ditopang oleh perbaikan infrastruktur kawasan yang masif oleh pemerintah, mulai dari revitalisasi pelabuhan hingga penataan jalur pedestrian pantai (promenade).
Terkait fluktuasi nilai tukar, pria yang akrab disapa Gus Agung ini menjelaskan bahwa melemahnya rupiah memberikan keuntungan bagi daya beli wisatawan asing, terutama dari pasar utama seperti Australia dan Amerika Serikat.
"Kalau lihat dari currency, harusnya, harusnya mereka dapat lebih kalau berbelanja ke sini. Dengan 1 dolar mungkin Rp10 ribu dari Australia, atau Rp15 ribu, Rp16 ribu dari US, sekarang dengan memasuki Rp18 ribu atau Rp13 ribu Australia, mereka dapat tiga, ada dapat kelebihan. Jadi lebih murah, harusnya itu dapat mem-boost kedatangan," paparnya.
Meski demikian, industri pariwisata tidak menutup mata terhadap situasi geopolitik dunia yang memicu krisis energi dan mengerek biaya penerbangan (airlines cost).
Namun, untuk saat ini, selisih nilai kurs masih dinilai menguntungkan bagi wisatawan yang memilih Bali.
"Syukur saat ini kami melihat perubahan antara cost yang naik di energi dan currency, kayaknya masih di currency yang memberikan apa namanya meringankan, atau memberikan nilai tambah saat mereka datang ke sini, karena cost di mana-mana naik sekarang semua. Mereka pun kalau mau terbang ke antar Australia atau antar Asia jauh lebih tinggi daripada terbang ke Bali. Kalau ditotal dengan hotel, makanan, akhirnya jauh lebih murah di Bali," bebernya.
Guna mengantisipasi hambatan perjalanan dari pasar jarak jauh (long haul) seperti Eropa dan Amerika akibat krisis tersebut, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Denpasar mengambil langkah taktis membidik pasar terdekat (short haul), khususnya Australia Barat.
"Strategi juga dari kita pasar, dari kita. Misalnya sekarang kalau terganggu Europanya terganggu Amerikanya, sudahlah kita ke Australia dulu, kan lebih pendek, cost terbang lebih murah, lalu currency mereka tetap ada perubahan ada naik, itu yang kita apa namanya push. Makanya kemarin saya dari Badan Promosi Pariwisata Daerah Denpasar pergi ke Perth ya, untuk melakukan promosi khusus," tegasnya.
Momentum stabilitas pasar ini bertepatan dengan usia Griya Santrian yang kini genap memasuki 54 tahun pada 26 Mei 2026.
Di usia yang matang ini, manajemen Santrian Group melakukan langkah peremajaan menyeluruh (rejuvenating) demi menghadapi pergeseran karakter pasar yang kini mulai didominasi oleh Generasi Milenial dan Gen Z.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Okupansi-Hotel-di-Sanur-Bali-Tembus-75-Persen-Lonjakan-Dolar-Jadi-Stimulus-Kunjungan-Wisman.jpg)