Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Siswi SD Lompat di Denpasar

Anak Perempuan SD Lompat dari Lantai 3 di Denpasar Dikenal Pendiam, Polisi Gandeng Psikolog

Tragedi ini bermula saat korban mengajak teman-temannya naik ke lantai tiga dengan dalih melihat patung Garuda Wisnu Kencana

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi. Iptu Azel Arisandi menjelaskan bahwa pendekatan psikologis diperlukan karena siswa SD ini dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dan pendiam 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Polsek Denpasar Selatan mengambil langkah serius dengan berencana menggandeng tim psikolog untuk membedah motif di balik aksi nekat seorang siswi kelas 6 SD yang melompat dari lantai tiga Pasar Serangan, Denpasar, Bali.

Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi, menegaskan bahwa pendampingan ahli psikologi ini dimaksudkan untuk menyelami alasan mendalam serta kondisi mental korban berinisial siswi berumur 13 tahun tersebut, mengingat adanya pengaruh kuat dari konten digital yang ia konsumsi sebelum kejadian. 

Polisi memilih untuk tidak terburu-buru melakukan pemeriksaan demi menjaga stabilitas mental anak tersebut yang saat ini masih dalam masa pemulihan pasca-operasi.

Iptu Azel Arisandi menjelaskan bahwa pendekatan psikologis diperlukan karena korban dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dan pendiam, yang merupakan tantangan tersendiri dalam mengungkap motif aslinya. 

Baca juga: FAKTA Baru Aksi Nekat Siswi SD Lompat di Pasar Serangan, Imajinasi Gim Omori, Korban Dikenal Pendiam

"Tentunya setelah kita dapat keterangan secara resmi kepada anak tersebut, kita pun akan menggunakan orang dari psikolog, artinya yang bisa lebih mengetahui lebih mendalam motif akibat dari perbuatannya ini," ujar Iptu Azel saat dijumpai Tribun Bali, pada Jumat 24 April 2026.

"Sehingga setelah didapatkan informasi ya akan kita lakukan berbagai upaya pencegahan agar tidak terjadi hal serupa di kemudian hari," imbuhnya.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua terkait bahaya imajinasi liar anak yang dipicu oleh gim yang tidak sesuai usia, seperti gim Omori yang baru diinstal korban dua hari sebelum kejadian melalui format APK. 

Tragedi ini bermula saat korban mengajak teman-temannya naik ke lantai tiga dengan dalih melihat patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), lalu memberikan instruksi "Oke, surprise mau dimulai" sebelum akhirnya melompat sambil direkam oleh rekan-rekannya. 

Polisi menduga korban terobsesi dengan karakter utama dalam gim tersebut yang memang melakukan aksi serupa pada adegan akhirnya.

Menanggapi fenomena ini, Iptu Azel memberikan pesan mendalam kepada para orang tua agar lebih bijak dan ketat dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka. Ia menekankan bahwa teknologi adalah pisau bermata dua yang dampaknya sangat bergantung pada siapa penggunanya. 

"Gunakanlah teknologi dan juga media secara bijak, tentunya ini perlu pengawasan yang ketat dari orang tua," jelasnya. 

Polsek Denpasar Selatan pun berkomitmen akan terus melakukan upaya preemtif melalui Unit Binmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat guna mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa depan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved