Berita Denpasar
FSRU LNG Sidakarya: Solusi Ketahanan Listrik atau Ancaman Baru bagi Pariwisata dan Tradisi?
FSRU LNG Sidakarya: Solusi Ketahanan Listrik atau Ancaman Baru bagi Pariwisata dan Tradisi?
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menyebut LNG menjadi bagian dari strategi ketahanan energi Bali dalam beberapa tahun mendatang. Dalam RUPTL PLN, Bali diproyeksikan mendapat tambahan pasokan listrik berbasis LNG hingga 1.550 megawatt.
"Secara hitungan matematis, kapasitas terpasang dengan kebutuhan sampai lima tahun ke depan aman,” ujarnya.
Namun ia mengakui tantangan terbesar bukan hanya kapasitas listrik, melainkan kepastian pasokan LNG itu sendiri. Menurutnya, fasilitas LNG akan ditempatkan sekitar 3,5 kilometer dari daratan dan telah melalui proses AMDAL serta persetujuan teknis.
Baca juga: Diplomasi Budaya Lewat Kecak, Mahasiswa Korea Selatan Bersiap Tampil Panggung PKB XLVIII
“Sudah diberikan keputusan melalui AMDAL, persetujuan teknis dan sebagainya bahwa ada tersus 3,5 kilometer dari darat offshore, inilah yang akan mensuplai sumber LNG kita,” tuturnya.
Penjelasan itu menunjukkan proyek ini telah masuk ke tahap teknokratis, mulai dari AMDAL, izin teknis, hingga skema bisnis antarbadan usaha. Namun di balik istilah offshore dan supply chain energi, pertanyaan warga tetap tertambat pada laut yang mereka kenal sebagai ruang hidup, bukan sekadar infrastruktur.
Saat ditanya mengenai dampak ekologis, Setiawan menyatakan kajian teknis semestinya telah dilakukan.
Baca juga: Ledakan Pariwisata Bali, Saatnya UMKM Unjuk Gigi Lewat Kolaborasi Hijau dan Super Apps Satu Pintu.
"Saya kira kalau sudah AMDAL keluar mestinya kan sudah, karena ini sudah pemrakarsa sudah melakukan penyampaian,” tegasnya.
Namun sampai sejauh ini, belum terlihat apakah dimensi spiritual laut Bali benar-benar dipetakan dalam dokumen AMDAL proyek tersebut. Kajian lingkungan lazim mengukur arus, sedimentasi, kualitas air, atau dampak biologis. Tetapi bagaimana dengan kawasan campuhan tempat warga mengambil tirta? Bagaimana ruang sakral dibaca dalam logika pembangunan energi?
Kekhawatiran serupa datang dari kawasan lain dalam lanskap ekologi yang sama. Prajuru Desa Adat Serangan, Wayan Patut, mengingatkan potensi gangguan terhadap kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai.
“Kalau beton masuk ke kawasan pinggir sungai dan mangrove, arus air akan terganggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan perubahan arus berpotensi memicu sedimentasi yang mengancam sistem akar mangrove.
"Akan terjadi penumpukan pasir atau lumpur di sekitar bangunan serta menutupi perakaran pohon mangrove yang berfungsi sebagai pernafasan dalam proses penyerapan karbon,” katanya.
| Rencana Underpass Tohpati Denpasar Bali Masih Penyesuaian APBN, Diharapkan Dimulai 2027 |
|
|---|
| Abadikan Denpasar Bali Lewat Karya Visual, Dispar Gelar Lomba Foto Hingga Pameran Kreatif |
|
|---|
| Tahun 2026, Pemkot Denpasar Bangun 2 Pos Damkar Baru, Siapkan Anggaran Rp 10 Miliar Lebih |
|
|---|
| Update Pasar Properti: Proyek Kolaborasi Swire dan JSI Group Masuki Tahap Hunian |
|
|---|
| Viral Aksi Tendang Motor di Denpasar Netizen Geram, Polisi: Korban Belum Melapor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Suasana-Pantai-Sidakarya.jpg)