Berita Denpasar
FSRU LNG Sidakarya: Solusi Ketahanan Listrik atau Ancaman Baru bagi Pariwisata dan Tradisi?
FSRU LNG Sidakarya: Solusi Ketahanan Listrik atau Ancaman Baru bagi Pariwisata dan Tradisi?
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Aloisius H Manggol
Peringatan itu bukan sekadar asumsi. Mangrove di Denpasar,selama ini menjadi benteng ekologis yang menahan abrasi, menyerap karbon, menjadi ruang asuh biota laut, dan melindungi garis pantai dari perubahan iklim. Benteng ekologis dari pesisir selatan.
Penelitian BRIN dan Universitas Udayana menunjukkan kawasan mangrove Teluk Benoa mencakup sekitar 1.134,92 hektare dengan kemampuan menyerap karbon hingga tiga kali lebih tinggi dibanding hutan daratan. Di saat yang sama, jalur pipa proyek LNG disebut memanfaatkan sekitar 1,7 hektare kawasan mangrove, sementara fasilitas FSRU ditempatkan 3,5 kilometer dari bibir pantai Sidakarya.
Penelitian “Monitoring and Analysis of Coastline Changes in the Coastal Area of Bali Island” dalam jurnal Civil Engineering Dimension juga menemukan perubahan garis pantai signifikan di pesisir selatan Bali akibat kombinasi faktor alam, sedimentasi, dan pembangunan pesisir. Kawasan Sidakarya, Serangan, hingga Teluk Benoa termasuk wilayah yang rentan mengalami kemunduran garis pantai terutama saat musim angin barat dan gelombang tinggi.
Ironisnya, abrasi menjadi persoalan nyata di Sidakarya. Ketua Komisi III DPRD Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, menyebut garis pantai terus mengalami tekanan. “Pasir sudah turun (abrasi) karena ketarik gitu,” katanya.
Bendesa Adat Sidakarya Ketut Suka menjelaskan dari pengamatannya kalau abrasi Pantai Muntig mundur hingga sekitar 60 meter dalam waktu kurang dari enam bulan. Menurutnya, abrasi ini dapat mengganggu ritual keagamaan seperti Melasti. Ia mengungkapkannya pada rapat di Komisi III DPRD Kota Denpasar, membahas abrasi di Pantai Muntig Sidakarya, Desa Sidakarya, pada 22 Januari 2026, seperti dirilis di halamanhttps://www.dprd.denpasarkota.go.id/berita/abrasi-pantai-muntig-sidakarya-kian-parah-dprd-denpasar-desak-penanganan-teknis-dan-permanen?utm_source=chatgpt.com.
Pernyataan-pernyataan itu memotret situasi pesisir yang rapuh. Laut di Sidakarya tidak hanya menghadapi rencana industrialisasi energi, tetapi juga sedang bergulat dengan perubahan ekologis yang telah berlangsung lama.
Sementara itu, Sebagai provinsi yang menggantungkan sumber pendapatan dari sektor pariwisata, infrastruktur gas akan merusak ruang laut. Tak hanya mengurangi wilayah tangkap nelayan, tapi juga berpotensi mengganggu pariwisata laut Bali yang menjadi daya tarik wisatawan.
Penggunaan energi gas juga akan menjerat Bali pada jebakan baru, sebab energi gas bersifat fluktuatif, khususnya ketika berhadapan dengan konflik geopolitik.
| Rencana Underpass Tohpati Denpasar Bali Masih Penyesuaian APBN, Diharapkan Dimulai 2027 |
|
|---|
| Abadikan Denpasar Bali Lewat Karya Visual, Dispar Gelar Lomba Foto Hingga Pameran Kreatif |
|
|---|
| Tahun 2026, Pemkot Denpasar Bangun 2 Pos Damkar Baru, Siapkan Anggaran Rp 10 Miliar Lebih |
|
|---|
| Update Pasar Properti: Proyek Kolaborasi Swire dan JSI Group Masuki Tahap Hunian |
|
|---|
| Viral Aksi Tendang Motor di Denpasar Netizen Geram, Polisi: Korban Belum Melapor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Suasana-Pantai-Sidakarya.jpg)