Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nyepi 2026

Ketug Lindu, Ogoh-Ogoh Karya STT Kelodan Tampaksiring Bali: ‘Sing Main-Main Wi’

Saat Tribun Bali mendatangi lokasi pembuatan ogoh-ogoh Ketug Lindu, pengerjaannya telah mencapai 90 persen.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Pengerjaan: Ketut Marnik alias Kembar saat membuat ogoh-ogoh Ketug Lindu di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Senin 16 Maret 2026. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Sekaa Teruna Teruni (STT) Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Bali tidak pernah kehabisan generasi pembuat ogoh-ogoh. Setelah Mang Egik yang viral dengan mahakarya Tulak Tunggul.

Kini pembuatan ogoh-ogoh diarsiteki oleh I Ketut Marnik alias Kembar, walaupun Marnik sendiri tidak mau menyebut dirinya sebagai arsitek.

"Sebenarnya tidak ada arsitek, ini karya bersama," ujarnya ramah, saat ditemui, Senin 16 Maret 2026.

Adapun ogoh-ogoh yang sedang digarap bernama Ketug Lindu. Sebuah karakter menyerupai orang tua yang duduk di belakang gong. Namun saat Tribun Bali ke sana, gongnya belum dipasang.

Baca juga: Putu AW Akhirnya Ditangkap, Uang Pesanan Baju Ogoh-Ogoh Ternyata Dipakai Main Judi

Seniman senior Banjar Kelodan, Gusti Akang mengungkapkan bahwa sekitar sepekan lalu, sempat terjadi fenomena mistis terkait ogoh-ogoh ini. Yakni terdapat suara gaib saat ‘Kembar’ selaku arsitek ogoh-ogoh tengah mengerjakan kepala ogoh-ogoh di rumahnya.

Suara tersebut menyerukan nama ‘Kembar’. Hal tersebut diduga karena pembuatan badan dengan kepala tidak satu lokasi. Setelah adanya suara tersebut, akhirnya kepala dan badan ogoh-ogoh ini pun disatukan.

"Sekitar seminggu ada suara tanpa orangnya, dia bilang ’Kembar’. Karena tubuh ogoh-ogohnya di sini, kepalanya di rumahnya Kembar. Kejadiannya saat itu malam hari, setelah ada suara, langsung kepalanya dibawa dan dipasang,” ujarnya.

Saat Tribun Bali mendatangi lokasi pembuatan ogoh-ogoh Ketug Lindu, pengerjaannya telah mencapai 90 persen.

Pengerjaan: Ketut Marnik alias Kembar saat membuat ogoh-ogoh Ketug Lindu di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Senin 16 Maret 2026.
Pengerjaan: Ketut Marnik alias Kembar saat membuat ogoh-ogoh Ketug Lindu di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Senin 16 Maret 2026. (Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta)

"Saat ini sudah 90 persen. Pengecatan dimulai jam 12 malam sampai jam 12 siang tadi. Pengecatannya pakai 10 warna. Saat ini pengecatan sudah selesai, nanti tinggal finishing," ujar Gusti Akang, yang namanya telah terkenal sebagai spesialis pengecatan ogoh-ogoh.

Gusti Akang mengatakan, setiap tahun ogoh-ogoh di Banjar Kelodan digarap oleh generasi baru.

"Nyepi tahun lalu Mang Egik, sekarang Kembar. Memang kami arahkan seperti itu. Supaya yang sudah pernah mengarsiteki ogoh-ogoh di banjar, agar Nyepi selanjutnya berkarya di luar," ujarnya.

Gusti Akang mengatakan, setiap tahunnya, selalu ada pemuda dari luar banjar yang meminta bantuan seniman ogoh-ogoh Banjar Kelodan.

Bahkan dirinya sendiri telah diminta oleh sejumlah STT untuk proses pewarnaan. Begitu juga Mang Egik, kata dia, pada Nyepi tahun ini diminta membantu salah satu STT di Ubud.

"Memang baiknya begitu, daripada di rumah saja, mending terima tawaran membantu STT lain, lumayan hasilnya daripada menunggu raskin," ujarnya lalu tersenyum.

Berdasarkan sinopsis yang tertera di lokasi pembuatan ogoh-ogoh, dipaparkan bahwa Ketug Lindu merepresentasikan kekuatan alam yang muncul sebagai sinyal peringatan bagi umat manusia ketika harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas mulai terganggu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved