Berita Gianyar
Masih Jadi Ancaman Peternak, Gianyar Bali Terus Genjot Vaksinasi PMK
Vaksinasi PMK, Dwitemaja optimistis seluruh target dapat diselesaikan sebelum akhir April 2026.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Meski kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tidak lagi ramai terdengar, ancamannya masih membayangi peternak.
Karena itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Gianyar terus menggencarkan vaksinasi untuk memastikan kesehatan ternak tetap terjaga.
Hingga Selasa 21 April 2026, capaian vaksinasi PMK di Gianyar telah mencapai sekitar 95 persen dari target 8.000 ekor sapi di tahun 2026 ini.
Upaya ini menjadi langkah preventif agar wabah tidak kembali merebak.
Baca juga: MENKO PMK Wakili Presiden Hadiri Dharma Shanti Nyepi Nasional di Bali
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Distannak Gianyar, I Made Dwitemaja, mengatakan sapi bagi masyarakat Gianyar bukan sekadar ternak, melainkan aset bernilai ekonomi tinggi.
“Sapi bagi peternak di Gianyar juga sebagai tabungan jangka panjang. Karena itu, kami berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk menjaga kesehatannya,” ujarnya.
Dari target vaksinasi tahap I, saat ini masih tersisa sekitar 340 ekor sapi yang belum tervaksin.
Dwitemaja optimistis seluruh target dapat diselesaikan sebelum akhir April 2026.
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari kerja simultan tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Keswan di lapangan.
Bahkan, pelaksanaan vaksinasi disebut lebih cepat dari perencanaan awal.
Vaksinasi dilakukan oleh 21 petugas yang juga dibantu tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Untuk meningkatkan efisiensi, metode yang diterapkan adalah menggabungkan vaksinasi PMK dengan vaksinasi rabies dalam satu wilayah kerja.
Sebaran populasi sapi terbesar berada di Kecamatan Payangan, Tegalalang, dan Sukawati. Namun, pelaksanaan di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
“Kendala yang sering dihadapi adalah lokasi kandang yang jauh di kebun serta pemilik ternak yang tidak berada di tempat,” jelasnya.
Sebagai solusi, petugas kerap saksi melibatkan warga sekitar atau perangkat desa agar vaksinasi tetap bisa dilakukan tanpa harus menunda jadwal atau menunggu pemilik sapi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sapi-Petugas-Distannak-Gianyar-saat-melakukan-vaksinasi-sapi-belum-lama-ini.jpg)