Berita Gianyar
Kesaksian Nelayan Gianyar Saat Air Laut Naik ke Permukaan, Semer: Baru Pertama Kali
Made Semer, seorang nelayan Pantai Pering, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali tengah jalan-jalan di pesisir pantai, Minggu 17 Juli 2022
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Made Semer, seorang nelayan Pantai Pering, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali tengah jalan-jalan di pesisir pantai, Minggu 17 Juli 2022 sekitar pukul 12.30 Wita.
Saat itu, kondisi ombak tengah tinggi, dengan deburannya yang ganas.
Sesekali, iapun melirik perahu kayunya yang diparkir di pesisir, yang hanya berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai.
Dalam ucapnya, ia berharap air laut tidak naik lagi seperti Sabtu 16 Juli 2022.
Baca juga: G20 Diharapkan Bangkitkan Lukisan Kutuh Kelod Ubud Gianyar
Di mana saat itu, Semer panik, lantaran dua jukung milik keluarganya dan jukung lain yang diparkir di sana hampir tersapu ombak.
"Dua perahu saya diseret ombak, saya panik sampai memanggil teman-teman untuk membantu agar tidak disapu ombak ke dalam laut," ujar Semer.
Pada Tribun Bali, Semer mengungkapkan, selama ia dilahirkan sebagai anak pantai hingga kini usianya sudah di atas 50 tahun, ia baru pertama kali melihat air laut naik ke permukaan.
"Kemarin di depan warung ini sampai-sampai menjadi laut. Baru pertama kali saya lihat," ujarnya saat ditemui di depan warung, yang berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai.
Semer mengatakan, selama kondisi laut masih ganas, ia tak melakukan aktivitas melaut.
Sebab, selain membahayakan, keberadaan ikan juga sulit diprediksi. Dalam mengisi waktunya, kini Semer dan nelayan lainnya memilih untuk 'ngangon' sapi.
Baca juga: NASIB MALANG Pendamping POSYANDU di Gianyar karena 6 BULAN Tidak Dibayar
"Kemungkinan sampai tiga bulan akan seperti ini. Sekarang memang musim paceklik. Nelayan tidak ada melaut, sekarang ya ngangon sapi saja," ujar pria yang memiliki 10 ekor sapi betina tersebut.
Berdasarkan Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikas (BPKG) Bali, hampir di semua pantai bagian selatan mengalami gelombang tinggi di atas dua meter.
Sementara, wilayah di Bali yang garis pantainya ada di selatan adalah Kabupaten Gianyar. Berdasarkan data BPBD Gianyar, air laut yang tinggi pada Sabtu kemarin tidak menyebabkan kerugian material. Namun, sebuah kuburan di Desa Ketewel yang berdekatan dengan pantai tertimbun pasir.
Baca juga: Perda RTRW Terkendala Data Luas Sawah, Distan Gianyar Kembali Turun Lapangan
Kapolsek Sukawati, Kompol I Made Ariawan P mengatakan, tidak terjadi kerusakan di wilayahnya saat air laut naik ke permukaan.
Sebab sebagian besar garis pantai di Sukawati telah dipasangi tanggul yang cukup tinggi. Namun karena air laut membawa pasir, sehingga menyebabkan satu kuburan adat di Ketewel tertimbun pasir.
"Astungkara tidak ada kuburan tergerus air laut hanya tertimbun pasir. Air pasang rutin terjadi tiap tahun, namun berkat ada krib pantai, tahun ini tidak berdampak parah. Semoga demikian selanjutnya," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-pantai-pering-desa-pering-kecamatan-blahbatuh-gianyar.jpg)