Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

LSD di Bali

Jembrana Bali Terima Laporan 22 Ekor Sapi Suspek LSD, Petugas Ambil Sampel, Peternak Diminta Tenang

Sugiarta menegaskan, belakangan ini edukasi terhadap peternak harus sangat gencar dilakukan di Jembrana Bali

Tayang:
Istimewa
Suasana vaksinasi LSD oleh petugas Medikvet yang didampingi peternak di wilayah Banjar Benel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana, Selasa 20 Januari 2026 kemarin. Jembrana Bali Terima Laporan 22 Ekor Sapi Suspek LSD, Petugas Ambil Sampel, Peternak Diminta Tenang 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana mencatat ada penambahan sebanyak 22 ekor ternak sapi suspek (dicurigai) terjangkit virus Lumpy Skin Disease (LSD).

Jumlah tersebut tersebar di Kecamatan Jembrana dan Mendoyo. Artinya, sebaran virus LSD dicurigai semakin meluas di Gumi Makepung ini.

Mengingat sebelumnya hanya ditemukan di wilayah Kecamatan Melaya dan Negara.

"Untuk laporannya ada penambahan 22 ekor suspek LSD. Ini baru suspek gih, belum positif," ungkap Kabid Peternakan, Keswan-Kesmavet Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta saat dikonfirmasi, Kamis 22 Januari 2026.

Baca juga: Distan Denpasar Awasi Kedatangan Sapi Dari Luar Denpasar Bali Untuk Cegah LSD

Dia melanjutkan, dengan adanya tambahan ternak dengan status suspek atau dicurigai di Kecamatan Jembrana dan Mendoyo, kemungkinan kasusnya bakal meluas.

Sebab, sebelumnya sudah dinyatakan ada 28 ekor ternak warga yang terjangkit karena tiga sampel yang hasilnya positif LSD sesuai hasil uji laboratorium di Balai Besar Veteriner (BBVet) di Denpasar.

"Nah untuk ternak warga yang menunjukkan gejala (suspek) baru, tim Medikvet kami di kecamatan rencananya mengambil sampel hari ini untuk memastikan apakah yang suspek tersebut terjangkit atau tidak," jelasnya.

Sugiarta menegaskan, belakangan ini edukasi terhadap peternak harus sangat gencar dilakukan.

Sebab informasi yang gampang diakses terutama di media sosial juga memberikan efek samping bagi peternak.

Terutama ketika ternaknya menunjukkan gejala benjolan padahal belum tentu LSD, peternak justru khawatir dan jadi beban pikiran.

"Sehingga saat ini kami meminta seluruh peternak untuk tetap tenang. Ketika misalnya ternak sapi atau kerbaunya menunjukkan gejala, tolong segera hubungi petugas kami untuk ditindaklanjuti guna memastikan itu mengarah ke LSD atau tidak," tegasnya.

"Karena kemarin kami juga sempat menerima laporan sapi ada benjolan, ternyata setelah dicek tidak mengarah ke LSD. Artinya tidak ada gejala klinis yang mengarah ke penyakit tersebut. Sehingga kami pastikan ke pemiliknya bahwa ternaknya aman," jelasnya lagi.

Ditegaskan kembali, gejala klinis dari penyakit LSD ini adalah kulit ternak berbenjol yang kemudian sekitar 7-10 hari benjolan tersebut meletus atau pecah dan kemudian keropeng.

Sehingga, seluruh peternak diharapkan untuk tetap tenang namun waspada.

Jika ditemukan ternak dengan gejala benjolan pada kulit, segera lapor untuk dipastikan.

Hal ini sangat penting dilakukan agar suspek tidak berkembang jadi wabah yang luas dan bakal berdampak pada ekonomi peternak.

Kumpulan Artikel Jembrana

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved