Tribun Bali Award
Mengangkat Desa Manistutu Bali ke Level Nasional: Jejak Pengabdian Anak Desa
Hasrat I Made Abdi Negara mengangkat Desa Manistutu muncul pertama kali pada tahun 2013.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Raga boleh melanglang buana, tetapi jiwa dan semangat harus tetap hadir untuk membangun tanah kelahiran.
Motto hidup ini menjadi pegangan utama bagi I Made Abdi Negara dalam berkontribusi bagi Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.
I Made Abdi Negara peraih Penghargaan Tokoh Muda Inspiratif Penggerak Pembangunan Desa Berdampak (The Most Inspiring Young Community Leader Of Impactful Village Development).
Dari desa yang tidak begitu dikenal di Jembrana maupun Bali, kini menorehkan sejumlah capaian membanggakan hingga melahirkan rasa bangga dan kecintaan warga akan status sebagai warga Desa Manistutu. Abdi Negara ikut berperan mengangkat Manistutu ke level nasional.
Baca juga: Dukung Talkshow Tribun Award Bertema UMKM Bali Go Digital, Diskop Bali Ajak Pelaku UMKM Hadir
Hasrat I Made Abdi Negara mengangkat Desa Manistutu muncul pertama kali pada tahun 2013.
Saat itu dirinya baru pulang dari Jakarta setelah 4 tahun bekerja sebagai Staf Ahli anggota DPD RI di Senayan.
Abdi saat itu melihat desanya punya potensi besar, tetapi belum banyak dioptimalkan.
Hanya saja, dirinya belum bisa langsung terjun menginisiasi gerakan kemajuan di desanya, karena dia mengambil tawaran pekerjaan sebagai Corporate Secretary di Grup Hardys Holding (Hardys Group).
Kariernya semakin moncer hingga memegang jabatan tambahan sebagai Business Development Director, sehingga kesempatan untuk menginisiasi cita-cita membangun desa, akhirnya sempat tertunda.
Waktunya saat itu banyak tersita untuk membantu pengembangan, internalisasi, rencana ekspansi dan persiapan Grup Hardys melakukan IPO (Initial Public Offering) atau melantai di Bursa Efek.
Akhir 2016, kesempatan itu benar-benar tiba. Pada tahun ini, Abdi memilih membangun bisnis di bidang F&B dan membuka kantor konsultan, sehingga waktu bersosialisasi di kampung halaman lebih longgar.
Dimulaikah diskusi awal dengan tokoh-tokoh desa setempat. Fokus utama saat itu bidang pendidikan.
Banyak remaja lulusan SMP tidak bisa melanjutkan ke SMA karena faktor jarak sekolah jauh.
Problem lain menjadi concern adalah keberadaan hutan Manistutu, Pura Pegubugan, Bendung Benel, dan potensi lain yang bisa dielaborasi menjadi bagian dari Daya Tarik Pengunjung (DTP) Desa Wisata yang belum maksimal dimanfaatkan.
Selain itu, permasalahan lain adalah populasi anak muda yang tinggi di desa, tetapi masih minim aktivitas produktif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Mengangkat-Desa-Manistutu-Bali-ke-Level-Nasional-Jejak-Pengabdian-Anak-Desa.jpg)