BMKG akan Kembangkan MEWS, Sistem Peringatan Dini Bencana Pesisir
BMKG akan mengembangkan MEWS yang berfungsi sebagai pendeteksi cuaca ekstrem. Proyek awal akan diterapkan di Jakarta dan Semarang
Penulis: Firizqi Irwan | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ahmad Firizqi Irwan
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Indonesia yang merupakan negara maritim sangat rentan terhadap berbagai bencana utamanya di daerah pesisir.
Sebagai negara dengan garis panjang ketiga di dunia atau 99.093 kilometer, Indonesia memiliki peluang sangat besar terhadap ancaman bencana terutama di daerah pesisir pantai.
Baca: Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, BMKG Imbau untuk Tetap Waspada
Baca: Tidak Bisa Tunjukkan STTP, Caleg DPR RI Dilaporkan ke Bawaslu Bangli
Baca: Tak Hanya di Website Resmi, KPU Akan Umumkan Caleg Eks Koruptor di Media Massa
BMKG berperan penting sebagai gardu terdepan dalam memberikan informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca, utamanya terhadap ancaman bencana bagi masyarakat di daerah pesisir.
Mengingat bencana yang bisa tiba-tiba terjadi di daerah pesisir, BMKG akan mengembangkan Meteorology Early Warning System (MEWS).
Hal ini diungkapkan dalam pertemuan untuk membahas dan mendukung MEWS di Nusa Dua Beach Hotel and Spa, Senin (28/1/2019).
MEWS sendiri merupakan sistem terintegrasi untuk mendeteksi cuaca ekstrem, termasuk peringatan dini bencana di wilayah pesisir, yang terdiri dari alat dan aplikasi.
Dengan itu, MEWS diharapkan bisa mengembangkan sistem peringatan dini seperti banjir di daerah pesisir.
"Melalui pusat Meteorologi Maritim, kita berupaya untuk mengembangkan sistem peringatan dini banjir pesisir. Biasa kita kenal dengan nama Coastal Inundation Forcasting Demonstration Project Indonesia atau disingkat CIFDP-I," jelasnya.
CIFDP-I yang telah ada sejak tahun 2013 itu dibuat atas asistensi World Meteorological Organization (WMO) atau Organisasi Meteorologi Dunia.
Baca: Pelaku Penipuan Tanah Rp 2,8 Miliar Diringkus Polres Gianyar
Baca: Rekaman Vanessa Angel Berbaju Putih Tanpa Suara Ini Ditonton 3,9 Juta Kali, Ada Yang Di Dalam Mobil
Baca: Pagi Ketawa-ketawa Siang Berubah Drastis, 5 Zodiak Ini Terkenal Emosinya Paling Labil
Sementara itu, pembangunan sistem akan diimplementasikan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Ibu Kota Jakarta dan Semarang.
Jakarta dan Semarang dipilih sebagai proyek awal dengan pertimbangan dua tempat tersebut memiliki dampak besar akibat bencana banjir pesisir.
Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Meteorologi Maritim BMKG, Andri Ramdhani tidak memungkiri bahwa ada beberapa bencana yang mengancam kehidupan dimasyarakat, terutama di wilayah pesisir.
"Kita tahu Indonesia menjadi negara yang memiliki garis pantai terpanjang nomor tiga di dunia. Tapi sebagai negara maritim, Indonesia menjadi negara yang masuk dalam daftar negara yang punya potensi bencana," ujarnya.
"Bencana itu ya seperti kita tahu, ada banjir, tsunami, gelombang badai atau storm surge yang saat ini mengancam masyarakat di wilayah pantai," tambahnya.
Pembahasan ini juga menghadirkan Meteorologi Maritim BMKG pusat bersama Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Kementerian PUPR pusat, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil KKP, Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika BIG, Direktorat Kesiap Siagaan BNPB, bersama WMO.
(*)