Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Nasional

Inflasi Capai 0,28 Persen, BPS Catat Harga Pangan dan BBM Jadi Pemicu

BPS mencatat komoditas pangan pokok tersebut menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar

Tayang:
Istimewa/generated AI
Ilustrasi Pasar by AI - Inflasi Capai 0,28 Persen, BPS Catat Harga Pangan dan BBM Jadi Pemicu 

Meski demikian, beberapa komoditas masih menahan laju inflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,06 persen.

Deflasi juga berasal dari emas perhiasan sebesar 0,06 persen dan telur ayam ras sebesar 0,05 persen.

Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, seluruh komponen mengalami kenaikan harga pada Mei 2026.

Komponen inti mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan dengan andil 0,14 persen.

Inflasi inti terutama didorong oleh kenaikan harga minyak goreng, telepon seluler, laptop atau notebook, pelumas mesin, nasi dengan lauk, serta biaya pemeliharaan atau servis kendaraan.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil 0,10 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini antara lain bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan solar.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen.

Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipicu oleh cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau.

Dari sisi wilayah, BPS mencatat sebanyak 31 provinsi mengalami inflasi pada Mei 2026, sementara tujuh provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Maluku sebesar 0,93 persen.

Sebaliknya, deflasi terdalam terjadi di Gorontalo yang mencapai 0,96 persen. (kontan)

Tekanan Harga Impor

Kenaikan inflasi pada Mei 2026 dinilai tidak hanya dipicu oleh faktor musiman dan kenaikan harga pangan, tetapi juga oleh meningkatnya tekanan inflasi impor (imported inflation) akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya bahan baku dari luar negeri.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi risiko inflasi yang perlu diwaspadai hingga akhir tahun.

Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PermataBank, Faisal Rachman, menilai inflasi tahunan yang kembali menembus level 3 persen pada Mei 2026 mencerminkan semakin kuatnya tekanan dari sisi pasokan (supply side).

Sumber: Kontan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved