Jro Mangku Akui Tari Rejang Sandat Ratu Segara Agak Kejawen, Inikah Penyebab Nyi Roro Kidul Datang?

Puluhan penari yang mengalami kerauhan, merasakan sesuatu yang aneh dan membuat orang-orang merinding

Jro Mangku Akui Tari Rejang Sandat Ratu Segara Agak Kejawen, Inikah Penyebab Nyi Roro Kidul Datang?
Kolase Tribun Bali
Seorang siswi kerauhan saat pagelaran tari kolosal Rejang Sandat Ratu Segara di Tanah Lot, foto kedua: ilustrasi Nyi Roro Kidul. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Pemangku Gede Pura Luhur Tanah Lot, Jro Mangku Wayan Semudra Yasa tak mengetahui pasti kenapa peristiwa kerauhan tersebut terjadi berlarut-larut setelah menarikan Rejang Sandat Ratu Segara, yang diciptakan dan digagas Bupati Eka Wiryastuti dan ditarikan 1.800 orang ini.

Padahal segala upacara dan upakara sudah dilakukan sebagaimana mestinya.

“Sebelum pementasan kita sudah mapikeling, ngaturang pakelem berupa siap selem, bebek selem, dan bebek putih jambul. Saat pementasan saya hanya menjalankan tugas di pura saja untuk berdoa dan memohon restu kepada Ida Stana di Pura Luhur Tanah Lot agar pagelaran ini berjalan aman dan lancar,” ujar Jro Mangku kepada Tribun Bali, Kamis (23/8/2018).

Baca: Pengakuan Putu Mia: Ada Wanita Cantik Berbusana Hijau Menari di Depan Kelas, Lalu Ajak Lakukan Ini

Hanya saja, kata dia, biasanya saat menggelar sesuatu atau pementasan yang jarang dilakukan atau pertama kali, memang ada sesuatu yang aneh akan terjadi.

“Dari segi upacara sudah dilaksanakan. Itu (ritual) sudah dilakukan dua kali pada saat gladi dan sebelum pementasan dimulai. Tapi biasanya jika ada pagelaran seperti ini atau tumben dilaksanakan, biasanya akan ada yang aneh juga,” tuturnya.

Diakui, pementasan tarian ini baru dilakukan pertama kalinya di Bali dan menurutnya untuk gamelan, vokal, dan tarian dinilai agak Kejawen.

Diberitakan sebelumnya, puluhan penari yang mengalami kerauhan, merasakan sesuatu yang aneh dan membuat orang-orang merinding. Bahkan ada penari yang sampai merasa trauma.

Para penari ini mengaku melihat wanita cantik seperti seorang ratu. Mereka pun terus terngiang-ngiang dengan nyanyian Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul dan gamelan Jawa yang mengiringi tarian kolosal Rejang Sandat Ratu Segara, Sabtu lalu.

Jro Mangku Semudra juga menyatakan belum pernah mendapat pawisik apapun terkait Tari Rejang Sandat Ratu Segara ini, baik dari sebelum pementasan maupun hingga usai pementasan.

Jro Mangku pun menyebutkan kerauhan bisa saja terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor.

Baca: Terjawab, Ini Penyebab Yeslin Wang Gugat Cerai Delon, Ada Kejadian Besar ini Lalu Merembet Kesini

Tetapi intinya penari yang mengalami trance atau kerauhan ini karena pengendalian dirinya kurang. Selain itu, faktor para penari yang berumur masih belia dan jiwanya tergolong labil.

“Mungkin hanya kurang pengendalian diri, karena ketika kita tidak bisa mengendalikan diri, kadang-kadang diri kita dirasuki sesuatu, atau dicoba oleh aura negatif yang mencoba masuk ke dalam diri kita. Sehingga, ketika kita tidak bisa mengendalikan diri, praktis akan mengalami kerauhan. Tapi jika bisa mengendalikan diri kerauhan itu tidak terjadi,” jelasnya.

Pria yang sudah tiga tahun menjadi Pemangku Gede di Pura Luhur Tanah Lot ini melanjutkan, biasanya jika tarian sakral dipentaskan saat ada upacara keagamaan seperti pujawali dan karya di pura. Lazimnya, saat upacara keagamaan tersebut yang dipentaskan adalah Tari Rejang Dewa.

“Biasanya tarian sakral dilaksanakan saat ada pujawali atau karya di sana (pura) seperti Tari Rejang Dewa. Apakah itu yang menyebabkan (kerauhan), saya juga tidak tahu pasti,” ujarnya.

Sebelumnya Bupati Eka menyatakan tarian tersebut hanya akan dipentaskan pada momen tertentu sesuai dengan pawisik yang diterima.

Karena itulah tarian ciptaannya itu disebut sakral.

Kemudian, pada saat menari kain tidak boleh kotor, jumlahnya kelipatan 9, 18, 27, dan seterusnya karena merupakan lambang kasih sayang.

Bupati Eka menambahkan Tarian Rejang Sandat Ratu Segara bersifat persembahan ke hadapan penguasa Segara, dan memang harus sakral dan berfungsi sebagai pembersih unsur negatif.

Karenanya setelah menarikan tari kolosal ini, unsur negatif terganggu atas kehadiran unsur positif dan harus dimurnikan melalui panglukatan (pembersihan diri).

Baca: Tak Disangka Dalam Penjara Ahok Masih Berjuang Hadapi Dirinya Sendiri, Sosok ini Ungkap Rahasia itu

Dia menerangkan bahwa energi negatif bawaan dari dalam diri tersebut memang sulit dilepaskan. Sehingga harus melakukan panglukatan di Pura Luhur Tanah Lot. Niscaya dengan malukat bisa menghindarkan diri dari unsur-unsur energi negatif.

"Itu (energi negatif) seperti magnet yang tidak bisa dilepas atau sulit dilepas, makanya kita harus malukat (setelah melakukan tarian). Karena tari ini adalah pengeruakan atau pembersihan. Jikalau memang dia sakit karena unsur bawaan ya Astungkara dibersihkan,” kata Eka.

Bupati Eka menyebutkan, Tari Rejang Sandat Ratu Segara merupakan persembahan bagi Ratu Segara yang selama ini sudah melindungi seluruh umat. "Ibu Ratu telah melindungi umat dan memberikan cinta kasih," ujarnya.

Telan Biaya Rp 2,5 M

Di sisi lain, pementasan kolosal Tari Rejang Sandat Ratu Segara ini juga menelan biaya yang sangat besar.

Hal ini diketahui berdasarkan proposal yang beredar di masing-masing Kepala SKPD Pemkab Tabanan yang ditandatangani bupati.

Proposal tersebut dilengkapi surat pengantar nomor 045.2/912/Disbud tertanggal 18 Agustus 2018 bertanda tangan Sekda Tabanan, I Nyoman Wirna Ariwangsa.

Dalam proposal berjudul Mighty Presentation Of Tari Rejang Sandat Ratu Segara, tercantum anggaran yang dibutuhkan untuk mementaskan tarian berdurasi 11 menit itu mencapai Rp 2,5 miliar lebih.

Baca: Siswi SMA di Manado Ngaku Diajak Kekasih Lakukan Hal Terlarang di Rumah Temannya, Berawal dari Sini

Anggaran Rp 2,5 miliar lebih ini dengan rincian, kostum penari sebanyak 1.800 set senilai Rp 585 juta dengan harga satuan Rp 385.000, untuk aksesoris penari 1.800 set senilai Rp 108 Juta dengan satu setnya Rp 60.000, untuk pembina tari inti 50 orang Rp 75 juta, penata tari 2 orang Rp 30 juta, penabuh 1 paket Rp 50 juta, kostum gladi kotor, bersih dan lainnya 3 paket Rp 158 juta, properti event 1 paket Rp 1,1 miliar lebih, Dokumentasi, publikasi, ATK, monev 1 paket Rp 200 juta, akomodasi transportasi dan konsumsi 1 paket Rp 100 juta, dan pengamanan 1 paket Rp 50 juta. Jumlah totalnya Rp 2.546.400.000.

Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan I Gusti Ngurah Supanji mengakui memang benar adanya proposal yang beredar di masing-masing kepala dinas di lingkungan Pemkab Tabanan.

Pasalnya untuk anggara Tarian Rejang Sandat Ratu Segara tidak ada dialokasikan di Dinas Kebudayaan. Bahkan, juga tidak ada dianggarkan dalam APBD Tabanan.

“Jadi tidak ada dana yang teranggarkan di Dinas Kebudayaan. Sehingga yang namanya acara seni dan budaya sudah biasa itu, dari dan oleh seniman masyarakat. Sehingga ada proposal untuk minta dukungan agar seni dan budaya bisa kita kembangkan,” kata Supanji saat ditemui pada penutupan Festival Tanah Lot, Senin (20/8).

Supanji menyebutkan, proposal tersebut disebarkan ke Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, Dinas Penanaman Modal. Menurutnya, SKPD tersebut yang berpotensi memberikan dukungan dana. (mpa)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved