Tolak KB Dua Anak, Gubernur Koster Tak Mau Nyoman Dan Ketut Hilang Dari Bali

Sehingga dari adanya permasalahan itu, ia pun secara tegas menolak kebijakan program KB dengan dua anak.

Tolak KB Dua Anak, Gubernur Koster Tak Mau Nyoman Dan Ketut Hilang Dari Bali
Tribun Bali / I Wayan Sui Suadnyana
Gubernur Bali, I Wayan Koster saat menghadiri peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional Tahun 2018 di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya (Art Center), Denpasar pada Senin, (26/11/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gubernur Bali, Wayan Koster mengatakan bahwa kelahiran dan kematian di Bali saat ini hampir berimbang selama kurun waktu lima tahun terakhir.

Menurutnya, hal ini disebabkan karena adanya program Keluarga Berencana (KB) dengan dua anak.

Sehingga dari adanya permasalahan itu, ia pun secara tegas menolak kebijakan program KB dengan dua anak.

"Suud mengkampanye KB dua anak nggih (Sudahi berkampanye KB dua anak ya). Bapak-bapak ini saya minta jangan KB dua anak lagi," kata Gubernur Koster saat hadir di peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional Tahun 2018 di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya (Art Center), Denpasar pada Senin, (26/11/2018).

Ia pun mengaku mengecek keberadaan penduduk di Bali yang dalam kurun waktu lima tahun sangat konstan (tetap).

Dengan adanya program KB dua anak, kata dia, sudah menjadi disiplin hidup pada masyarakat Bali.

"Kalau sudah begitu kita akan lama-lama akan kekurangan penduduk di Bali. konstan terus dia," jelasnya.

Dirinya pun membandingankan dengan keadaan masyarakat di luar negeri seperti Eropa dan Singapura yang menjalankan program dengan satu anak sudah menjadi disiplin hidup masyarakat dan dampaknya kini sangat terasa.

Dijelaskan Koster, negara-negara disana sampai-sampai memberikan insentif bagi keluarga yang bersedia mempunyai anak lebih dari satu.

Mengenai persoalan KB dua anak ini, dirinya juga berani mengaku berbicara keras dimana saja dan ia pun mengaku tak sepakat dengan pemerintah pusat.

Sehingga, menurutnya, program KB dua anak ini tidak cocok diterapkan di Bali karena dapat merugikan jumlah penduduk dan kultur masyarakat.

"Pertama Nyoman dan Ketut hilang. Coba lihat KTPnya, pasti sudah langka Nyoman dan ketut hilang," jelas Koster.

Koster pun meminta bahwa KB itu adalah keluarga berkualitas, bukan dengan dua anak.

Kedepan ia berencana akan memanggil kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Bali guna menyikapi program KB tersebut.

Selain itu Koster juga mengkritik adanya lomba kampung KB di Bali dengan kriteria harus sukses dengan dua anak dan dinilai dari segi tingkat kemiskinan. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved