Upacara Panca Wali Krama di Pura Besakih

Terkait Panca Wali Krama di Pura Besakih, PHDI Bali: Dilarang Ngaben Mulai 20 Januari

Serangkaian karya tersebut, umat Hindu di Bali dilarang melaksanakan upacara atiwa-tiwa atau ngaben mulai 20 Januari hingga 4 April 2019.

Terkait Panca Wali Krama di Pura Besakih, PHDI Bali: Dilarang Ngaben Mulai 20 Januari
Tribun Bali/Rizal Fanany
Gunung Agung saat diabadikan dari Pura Besakih,Karangasem,Jumat (22/9/2017).(Rizal Fanany/Tribun Bali) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Karya Agung Panca Wali Krama akan digelar di Pura Agung Besakih, Rendang, Karangasem, pada 6 Maret 2019 mendatang.

Serangkaian karya tersebut, umat Hindu di Bali dilarang melaksanakan upacara atiwa-tiwa atau ngaben mulai 20 Januari hingga 4 April 2019.

Upacara Panca Wali Krama berlangsung setiap 10 tahun sekali. Ini merupakan karya terbesar kedua setelah Eka Dasa Rudra yang berlangsung setiap 100 tahun sekali.

Baca: Viral Retaknya Tebing Uluwatu, Begini Penjelasan BPBD Provinsi Bali

Karya Agung ini telah ditetapkan berdasarkan Pesamuan Madya yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali pada 16 Agustus 2018 di Kantor PHDI Bali di Jalan Ratna, Denpasar.

Ilustrasi
Ilustrasi (Tribun Bali/Prima)

Berdasarkan keputusan Pesamuan Madya itu, pemuput upacara dalam Panca Wali Krama adalah seluruh Sadhaka, berpedoman pada Keputusan Sabha Pandita PHDI Nomor: 02/Bhisama/Sabha Pandita Parisada Pusat/Xl 2002 tanggal 28 Oktober 2002.

Salah satu poin penting dalam keputusan ini adalah adanya pelarangan melakukan upacara atiwa-tiwa/ngaben dalam rentang waktu dari tanggal 20 Januari hingga 4 April 2019.

Lalu, bagaimana kalau ada yang meninggal setelah tanggal 20 Januari 2019? Sesuai keputusan Pesamuan Madya, maka diatur sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan.

Baca: Kisah Pilu Bayi Azzahra Divonis Gagal Jantung, Sang Ibu: Kalau Mandiin Bibirnya Sampai Lidahnya Biru

Apabila ada yang meninggal dunia boleh “mekinsan” di pertiwi dan dilakukan pada sore hari, namun tidak mendapatkan tirta pengentas.

Apabila yang meninggal adalah Sulinggih (dwijati), Pemangku atau mereka yang menurut dresta tidak boleh dipendem, secepatnya dikremasi dan juga diperkenankan untuk “ngelelet sawa”.

Bagi yang masih berstatus walaka tidak sampai munggah tumpang salu. Sedangkan bagi Sulinggih (dwijati) dapat dilanjutkan sampai munggah tumpang salu.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved