Tanggung Jawab Besar untuk Terus Belajar, Mangku Pastika Raih Gelar Doktor di FH Unud

Sidang terbuka Promosi Doktor Mangku Pastika dengan disertasi berjudul ‘Pengaturan Kebebasan Pers dalam Penyelenggaraan Jasa Pariwisata Berkelanjutan'

Tanggung Jawab Besar untuk Terus Belajar, Mangku Pastika Raih Gelar Doktor di FH Unud
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Sidang Terbuka - Gubernur Bali Periode 2008-2018, Made Mangku Pastika menjalani sidang terbuka Promosi Doktor dengan disertasinya yang berjudul ‘Pengaturan Kebebasan Pers dalam Penyelenggaraan Perdagangan Jasa Pariwisata Berkelanjutan’ di Aula Fakultas Hukum Universitas Udayana, Senin (4/3/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Udayana mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Made Mangku Pastika (67) dengan disertasinya yang berjudul ‘Pengaturan Kebebasan Pers dalam Penyelenggaraan Perdagangan Jasa Pariwisata Berkelanjutan’. 

Gubernur Bali Periode 2008-2018 ini berhasil lulus dengan memperoleh IPK 3,98 (predikat sangat memuaskan) dan masa studi 5 tahun 7 bulan.

Pastika mengatakan lulus program Doktor merupakan titik awal baginya untuk memulai suatu perjalanan hidup ke depan karena menurutnya menyandang gelar Doktor tidaklah sederhana.

Baca: Jelang Hari Raya Nyepi, Wisatawan Mancanegara Meningkat 17 persen

Baca: Ibunda Mikha Tambayong Meninggal Akibat Penyakit Autoimun, Berikut Ini Jenis dan Cara Mendeteksinya

“Ada tanggung jawab yang besar untuk terus belajar mengisi diri,” kata Pastika usai sidang di Aula Fakultas Hukum Universitas Udayana, Senin (4/3/2019).

Lanjutnya, tidak mudah melewati masa perkuliahan di tengah kesibukan yang dijalaninya selama beberapa tahun, yang pada saat bersamaan menjadi seorang Gubernur.

Suatu saat dirinya juga pernah merasa putus asa karena menganggap tidak mudah menyelesaikan proses pendidikan tersebut secara bertanggung jawab.

Baca: Baku Salip di Jalur Gitgit Buleleng, Mantan Anggota TNI Tewas Ditikam

Baca: Nyepi Tahun 2019, Tol Bali Mandara Tutup Selama 32 Jam, Simak Jam Operasionalnya 

“Tidak sedarhana prosesnya, dan saya berusaha mengikutinya dengan sungguh-sungguh sehingga pada suatu saat saya merasa tidak mungkin untuk meneruskannya lagi,” akunya.

Tetapi seiring berjalannya waktu, hal itu urung dilakukan karena ia merasa sekolah itu penting untuk memberikan motivasi dan semangat, khususnya kepada generasi muda, bahwa tidak pernah usia tua menghalangi kita untuk terus belajar.

“Itulah sesungguhnya motivasi saya untuk menyelesaikan sekolah pendidikan tinggi,” tutur Pria kelahiran Buleleng, 22 Juni 1951 ini.

Baca: Nyepi Tahun 2019, Tol Bali Mandara Tutup Operasional Selama 32 Jam, Potensial Lost Capai Rp 550 Juta

Baca: Ibu Mikha Tambayong Meninggal Karena Autoimun, Seperti Ini Penyakit dan Gejala Autoimun

Adapun topik yang diangkat dalam disertasi itu adalah ‘Pengaturan Kebebasan Pers dalam Penyelenggaraan Perdagangan Jasa Pariwisata Berkelanjutan’, dimana dalam perjalanan penulisan tugas akhir itu lebih banyak membahas tentang kebebasan pers dibanding dengan persoalan hukum kepariwisataan.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved