Sindrom Patah Hati Ternyata Memiliki Gejala yang Mirip dengan Serangan Jantung, Seperti Sesak Napas

Sindrom patah hati, atau kardiomiopati takotsubo, terjadi ketika otot jantung tiba-tiba melemah dan menyebabkan jantung berubah bentuk.

Sindrom Patah Hati Ternyata Memiliki Gejala yang Mirip dengan Serangan Jantung, Seperti Sesak Napas
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Baru-baru ini para peneliti menemukan bahwa asal usul patah hati terdapat di otak. Lebih khusus lagi, asal-usul suatu kondisi yang disebut "sindrom patah hati".

Sindrom patah hati, atau kardiomiopati takotsubo, terjadi ketika otot jantung tiba-tiba melemah dan menyebabkan jantung berubah bentuk.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh emosi atau stres yang ekstrem, seperti kehilangan orang yang dicintai.

Sekarang, sebuah studi baru menemukan bahwa otak juga tampaknya memainkan peran penting dari sindrom tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa pada orang yang mengembangkan sindrom patah hati, area otak yang bertanggung jawab untuk mengendalikan respons stres seseorang tidak berfungsi sebaik yang mereka lakukan pada orang tanpa gangguan ini.

Temuan ini diterbitkan 5 Maret di jurnal European Society of Cardiology. Sindrom patah hati memiliki gejala yang mirip dengan serangan jantung, termasuk nyeri dada dan sesak napas.

Baca: Cara Mendeteksi Dini Penyakit Jantung Dengan Menyatukan Dua Jari Kanan, Ikuti Langkahya

Baca: Tanda-tanda Serangan Jantung Tak Datang Mendadak, Hati-Hati Bila Lengan Terasa Lemah Dan Berat

Meskipun sindrom ini dapat memiliki konsekuensi yang bertahan lama, kebanyakan orang yang mengalaminya akan pulih sepenuhnya tanpa kerusakan permanen pada jantung, menurut Pusat Informasi Penyakit Genetik dan Langka.

Tetapi masih belum jelas mengapa beberapa orang mengembangkan kondisi ini dan yang lainnya tidak, kata Jelena-Rima Ghadri, co-author penelitian ini dari University Hospital Zurich, Swiss.

Melansir dari Live Science, Selasa (05/03/2019), karena hal itu, Ghadri dan timnya memutuskan memeriksa peran otak dari kondisi yang biasanya dipicu oleh emosi yang ekstrem tersebut.

Untuk melakukannya, tim memindai otak dari 15 pasien wanita yang sebelumnya menderita sindrom patah hati. Pemindaian otak berlangsung pada 2013 dan 2014.

Halaman
123
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved