Hari Raya Nyepi

Tradisi Siat Yeh saat Ngembak Geni di Banjar Teba Jimbaran

Ratusan umat di Banjar Teba, Jimbaran melakukan hal yang berbeda yakni tradisi Siat Yeh dengan cara bermain air

Tradisi Siat Yeh saat Ngembak Geni di Banjar Teba Jimbaran
Banjar Teba
Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - H+1 Nyepi, umat Hindu di Bali melakukan melukat yakni pembersihan.

Namun ratusan umat di Banjar Teba, Jimbaran melakukan hal yang berbeda yakni tradisi Siat Yeh dengan cara bermain air.

Selaku penyelenggara, I Wayan Eka Santa Purwita (38) menjelaskan, tradisi ini dilakukan setiap ngembak geni sehabis Nyepi.

Baca: Waktu Kelahiran Ternyata Bisa Mengungkap Kepribadianmu, Kamu Lahir Jam Berapa?

Baca: Aksi Dramatis Penyelamatan Satu Keluarga Terjebak Banjir, Hanya Mobil Ini yang Berhenti dan Menolong

Diikuti ratusan warga mulai dari anak-anak sampai tua dengan memakai baju busana berwarna putih dan kuning.

Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019).
Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019). (Banjar Teba)

Pemakaian busana putih dan kuning ini mempunyai tugas masing-masing.

Busana putih mencari air mata di rawa (Suwung) dengan membawa lima kendi ke arah timur. dan yang berbusana kuning mengarah ke barat dengan membawa tujuh kendi.

Baca: Pengarakan Ogoh-Ogoh di Denpasar Masih Gunakan Sound System,Satpol PP: Keberadaan Mereka Tidak Jelas

Baca: Ria Ricis Terharu, Kakaknya yang Seorang Dokter Mengaku Minder dengan Dirinya

"Kegiatan kedua kalinya yang dilakukan yakni Siat Yeh. Di mana di sini biasanya dilakukan setiap ngembak Geni sehabis Nyepi. Mulai dari pukul 06.00 Wita sudah kumpul di Banjar untuk persiapan dengan memakai busana putih dan kuning. Baju putih mencari air mata di rawa (Suwung) dengan membawa lima kendi mengarah timur dan tujuh kendi ke arah barat. Orang yang membawa bisa mencapai 200 orang ke barat dan timur kisaran satu kilo. Yang hadir keseluruhan sekitar 500 orang yang hadir," ujarnya.

Eka mengungkapkan, prosesi pengambilan mata air ini diawali dengan matur sembah dahulu, yang kemudian anak-anak muda dipoleskan tanah rawa.

Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019).
Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019). (Banjar Teba)

Setelah itu air baru boleh dibawa.

Baca: 5 Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi karena Kebiasaan Minum Sambil Berdiri

Baca: Wanita 26 Tahun Ini Menato Hampir 60 Persen Tubuhnya agar Tak Mendapatkan Pekerjaan Normal

Selesai pengambilan air tirta, air tersebut dijadikan satu untuk tirta pengelukatan dan diletakkan di sanggar agung (Pelinggih).

Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019).
Usai nyepi, ratusan umat Hindu lakukan tradisi Siat Yeh, Jumat (8/3/2019). (Banjar Teba)

"Prosesi pertama matur sembah dulu, kemudian anak mudanya dipoles dengan tanah rawa dan kemudian airnya diminta dan dibawa. Setelah kembali, ada air pertama itu dijadikan satu yang dipakai untuk tirta pengelukatan dan ditaruh di sanggar agung (Pelinggih). Kemudian air satunya lagi dicampur untuk ke wajah, baru dibenturkan tembayan itu bahwa tanda Siat Yeh dimulai. Sebelum itu ada nyanyiannya," ujarnya.

Baca: Tidur Siang Ternyata Punya Manfaat untuk Menjaga Tekanan Darah

Baca: 4 Langkah Makeup Anti Ribet, untuk Hasilkan Wajah Cantik Sempurna  

Dengan tema Penandih Tunggal ini mempunyai makna yakni melakukan penatralisiran atau melukat (pembersihan) dengan cara bermain air. 

"Sebenarnya itu mandi, namun kita polah menjadi satu permainan. Kalo orang melukat biasanya kan ke Suwung, ke segara, ke pantai kan tapi kami kemas menjadi satu permainan dan tetap tidak menghilangkan spirit spiritualnya," ujarnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved