Ngopi Santai

Karya Suci dan Politik yang Banal

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Senyum Pan Kerug mengembang karena karya ngenteg linggih di paibon-nya sukses dihelat.

Lelah berhari-hari dan letih bermalam-malam para warga di keluarga besarnya untuk menyiapkan rangkaian karya, terbayarkan sudah.

"Inggih, krama paibon tityang sareng sami (Baiklah, keluarga besarku semuanya). Sane mangkin karya sampun puput (Sekarang upacara sudah selesai). Semua berjalan lancar, labda karya sidaning don," ucap Kerug disambut gemuruh tepuk tangan warga di paibon-nya.

Sebagai ketua panitia karya, Kerug tidak saja dianggap sukses menjalankan mandat.

Ia juga berhasil mendatangkan beberapa ‘orang asing’ yang bersedia hadir di tengah-tengah keluarga besarnya, berbaik hati, dan tak lupa berderma dalam karya suci itu.

Pan Kelor – seorang anggota paibon yang sehari-hari bekerja sebagai engineering di sebuah hotel – juga bersyukur tak kepalang.

Karya yang menghabiskan biaya tak sedikit itu ternyata tak cukup mengoyak keadaan ekonominya.

Pikirannya sedikit lebih tenang.

Sejumlah uang yang awalnya dia sisihkan untuk membayar iuran karya, tak jadi dibayarkan semua.

Sebab, beberapa ‘orang asing’ yang datang saat puncak karya, membawa segempok uang.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved