Ngopi Santai
Karya Suci dan Politik yang Banal
Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.
Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Senyum Pan Kerug mengembang karena karya ngenteg linggih di paibon-nya sukses dihelat.
Lelah berhari-hari dan letih bermalam-malam para warga di keluarga besarnya untuk menyiapkan rangkaian karya, terbayarkan sudah.
"Inggih, krama paibon tityang sareng sami (Baiklah, keluarga besarku semuanya). Sane mangkin karya sampun puput (Sekarang upacara sudah selesai). Semua berjalan lancar, labda karya sidaning don," ucap Kerug disambut gemuruh tepuk tangan warga di paibon-nya.
Sebagai ketua panitia karya, Kerug tidak saja dianggap sukses menjalankan mandat.
Ia juga berhasil mendatangkan beberapa ‘orang asing’ yang bersedia hadir di tengah-tengah keluarga besarnya, berbaik hati, dan tak lupa berderma dalam karya suci itu.
Pan Kelor – seorang anggota paibon yang sehari-hari bekerja sebagai engineering di sebuah hotel – juga bersyukur tak kepalang.
Karya yang menghabiskan biaya tak sedikit itu ternyata tak cukup mengoyak keadaan ekonominya.
Pikirannya sedikit lebih tenang.
Sejumlah uang yang awalnya dia sisihkan untuk membayar iuran karya, tak jadi dibayarkan semua.
Sebab, beberapa ‘orang asing’ yang datang saat puncak karya, membawa segempok uang.
“Perlu tiyang laporkan, krama paibon tityang sareng sami, keuangan kita dalam karya ini surplus! Patut disyukuri, dalam karya ini kita tidak buntung; melainkan untung!” Kerug semringah melanjutkan laporannya – sorak dan tepuk tangan warga pun terdengar semakin bergemuruh.
Fenomena tadi acap terjadi di Bali hari-hari belakangan ini.
Terlebih lagi, saat ini merupakan tahun politik yang sebentar lagi akan dilanjutkan dengan Pemilu serentak.
Kerumunan warga – termasuk upacara adat yang melibatkan massa, bahkan acara pernikahan – adalah santapan yang gurih untuk meraih dukungan; dan syukur-syukur mendulang suara.
Bersama tim suksesnya, para calon legislatif yang berlaga dalam Pemilu serentak bergerilya dari paibon ke paibon, dari banjar ke banjar dengan dibalut istilah simakrama.