Warga Binaan Lapastik dan Rutan Bangli Senang Bisa Terlibat dalam Program Bedah Rumah TMMD

Sepuluh pria warga binaan terlihat saling bahu-membahu menyelesaikan sebuah bangunan di wilayah Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/Fredey Mercury
Suasana pembangunan jalan penghubung Dusun Tampuagan menuju Dusun Dukuh Penarukan, Bangli, Jumat (15/3/2019). Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sepuluh pria dewasa terlihat saling bahu-membahu menyelesaikan sebuah bangunan di wilayah Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli, Jumat (15/3/2019). Sepintas, tidak ada yang aneh dengan mereka. Padahal, seluruh pria tersebut merupakan warga binaan. Lima orang dari Lembaga Pemasyarakatan Narkotka (Lapastik), dan lima orang lagi dari  Rumah Tahanan (Rutan) Bangli.

Cuaca siang itu agak mendung. Meski demikian, sepuluh warga binaan tersebut tetap memegang alat-alat bangunan untuk menyelesaikan pembangunan dua kamar tidur beserta satu dapur dan toilet.

Salah satu warga binaan Lapastik Bangli, Anang Winarko mengaku sangat senang bisa dilibatkan dalam program bedah rumah, yang merupakan salah satu bagian dari kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-104 ini.

Terlebih lagi, lanjut Anang, keterlibatan ini sekaligus bisa membuatnya bertemu dengan masyarakat yang berada di luar tembok penjara.

Respon masyarakat sekitar juga diakui Anang sangat baik. Tidak ada rasa khawatir maupun pandangan sinis terhadap keterlibatan warga binaan selama tiga hari terakhir ini.

Di samping karena selama proses pengerjaan mereka masih mendapat pengawasan dari pihak lapas maupun rutan, pihaknya juga memberikan penegasan tidak akan berbuat onar maupun berusaha kabur selama berlangsungnya program pembinaan ini.

“Semoga apa yang kami persembahkan ini bisa membantu masyarakat walaupun hanya sedikit. Selain itu, kami juga berharap agar program serupa bisa berlanjut, sehingga warga binaan lainnya juga bisa merasakan kebahagiaan berkumpul kembali dengan masyarakat sekitar diluar tembok seperti yang kami rasakan,” ungkap pria 50 tahun yang empat bulan lagi merasakan udara bebas ini.

Dalam kegiatan bedah rumah, warga binaan yang dipilih adalah mereka yang masa hukuman penjaranya akan berakhir.

Personel warga binaan yang terlibat pun ada yang telah digantikan mengingat seorang warga binaan telah bebas.

Untuk diketahui, warga binaan yang terlibat dalam bedah rumah ini tidak seluruhnya memiliki skill dalam pertukangan.

Satu di antaranya Gede Cani, warga binaan asal Desa Songan, Kintamani. Ia mengaku memang tidak memiliki skill pertukangan sebab pekerjaan aslinya adalah seorang sopir truk.

“Saya tidak punya skill pertukangan sama sekali, tapi saya bisalah ikut-ikut bantu aduk semen dan sebagainya. Karena yang dipilih di sini sebagian besar warga binaan yang menjelang bebas. Seperti saya yang tinggal menunggu hari saja,” ujar pria yang divonis akibat laka lantas ini.

Pemilik rumah bernama Made Kuswanta, sama sekali tidak merasa resah maupun khawatir terhadap pelibatan warga binaan dalam bedah rumah tersebut. Ia justru mengaku bersyukur sebab lahan pribadi miliknya yang terkena jalur pembangunan jalan kini dibuatkan bangunan baru.

“Mulanya jalan di depan itu kecil, hanya jalan setapak yang tidak bisa dilalui oleh sepeda motor. Di sana mulanya ada dapur saya. Tapi, dengan pembukaan jalan penghubung Dusun Tampuagan menuju Dusun Dukuh Penarukan, saya mendapatkan bantuan bedah rumah dan dibuatkan bangunan baru berukuran 4 meter x 7 meter,” ungkapnya.

Selain bedah rumah, pembukaan jalan baru penghubung dua dusun sepanjang 1,5 kilometer melalui program TMMD ini juga dirasakan manfaatnya, khususnya bagi masayarakat sekitar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved