Dua Antropolog Bahas Munculnya Identitas Bali pada Era Kolonial pada Acara Timbang Pandang di BBB

Dua antropolog asal Prancis, Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya

Dua Antropolog Bahas Munculnya Identitas Bali pada Era Kolonial pada Acara Timbang Pandang di BBB
Bentara Budaya Bali
Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya kini. Acara timbang pandang tersebut berlangsung pada Jumat (22/03/2019) di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dua antropolog asal Prancis, Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya kini.

Acara timbang pandang tersebut berlangsung pada Jumat  (22/03) di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Michel Picard merupakan seorang peneliti dan pendiri Pusat Studi Asia yang berpusat di Paris, Prancis dan telah banyak menerbitkan buku terkait Bali, terutama perihal studi pariwisata, budaya, identitas, etnis dan agama.

Pada timbang pandang ini ia memaparkan hasil kajiannya terkait bagaimana orang Bali kala itu mengkonstruksi identitas ke-Bali-an mereka, terutama terkait dengan konteks agama, adat dan budaya.

Baca: Workshop Seni Media Hadir di Bentara Budaya Bali hingga 24 Maret 2019, Yuk Belajar Video Editing

Baca: Film Tentang Sosok Berkebutuhan Khusus Tayang di Sinema Bentara

Dengan penggabungan Bali dalam kuasa kolonial Hindia Belanda, pada pergantian abad ke-20, tak pelak mendorong tumbuhnya kehidupan intelektual Bali.

Hal mana disebabkan pemerintah kolonial kala itu membutuhkan penduduk asli yang berpendidikan untuk menjadi jembatan atau penghubung antara penduduk lokal dan pendatang asing dari mereka.

Generasi pertama Bali yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan era kolonial itu, turut serta terlibat dalam proses identifikasi diri sebagai orang Bali. 

Mereka mendirikan organisasi modern dan mulai menerbitkan majalah dalam bahasa Melayu, yang konten dan bentuknya terbilang inovatif atau kreatif.

Dalam terbitan-terbitan ini, orang Bali menafsirkan identitas Kebaliannya – yang mereka sebut sebagai “Balineseness”- dalam istilah “agama” (agama), “tradisi” (adat) dan “budaya” (budaya).

Baca: Bentara Budaya Bali Gelar Bincang Buku “Mencari Bali yang Berubah” Karya I Ngurah Suryawan

Baca: Dialog Budaya Selampah Laku IBM Dharma Palguna akan Digelar di Bentara Budaya Bali

Kala itu, masih jauh dari ekspresi esensi primordial, sebagaimana akan lebih mengemuka belakangan, kategori-kategori konseptual ini adalah hal baru dan harus diselaraskan serta ditafsirkan oleh orang Bali sesuai dengan referensi dan keprihatinan serta pengharapan mereka sendiri.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved