Anjing & Kucing Dilarang Keluar Masuk Bali, 'Antibodi Tinggi Sebenarnya Aman tapi Regulasi Melarang'

Hewan Penular Rabies (HPR) yakni anjing dan kucing dilarang keluar dan masuk Pulau Bali sejak tahun 2008 hingga sekarang

Anjing & Kucing Dilarang Keluar Masuk Bali, 'Antibodi Tinggi Sebenarnya Aman tapi Regulasi Melarang'
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Penanggung Jawab Wilayah Kerja Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Pelabuhan Gilimanuk, dr.h IB Eka Ludra saat ditemui Tribun Bali di Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, Jalan Raya Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Minggu, (31/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Hewan Penular Rabies (HPR) yakni anjing dan kucing dilarang keluar dan masuk Pulau Bali sejak tahun 2008 hingga sekarang.

Pelarangan tersebut berdasarkan landasan hukum tentang operasi karantina pertanian yakni Undang-undang RI No. 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, karantina ikan, karantina tumbuhan, Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 200 tentang karantina hewan dan Peraturan Pemerintah RI No. 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan, dan Peraturan Gubernur Bali No.88 tahun 2008.

"Kalau sekarang tetap tidak boleh. Meskipun sudah mendapat dokumen-dokumen dari dokter dan sebagainya. Itu ada peraturan perundang-undangan yang mengatur. Pertama kali memang tindakan kita menahan, menolak dan memusnahkan,"

Baca: Zaskia Sungkar Nyatakan Indonesia Kiblat Fashion Muslim Dunia, Begini Penjelasannya

Baca: Yayasan Seva Bhuana Tingkatkan Kesejahteraan Hewan Bersama Guru Sekolah Dasar

"Kita tahan dulu untuk melengkapi dokumen, setelah itu kita tolak, kalau tidak mau ditolak ya kita musnahkan," jelas Penanggung Jawab Wilayah Kerja Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Pelabuhan Gilimanuk, drh IB Eka Ludra saat ditemui Tribun Bali, Minggu (31/3/2019).

Pihaknya menuturkan, sejumlah Hewan Penular Rabies (HPR) jenis kucing, anjing, kera dan sebagainya hingga saat ini masih dilarang keluar dan masuk Bali, khususnya melalui Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk.

"Sejak tahun 2008 itu pernah terjadi kasus rabies. Itu dengan SK Menteri Pertanian No. 1696 bahwa Provinsi Bali dinyatakan sebagai kawasan karantina penyakit anjing gila (rabies). Ketentuannya, tidak boleh memasukkan, tidak boleh mengeluarkan dan tidak boleh transit,"

"Sudah hampir 11 tahun ya peraturannya. Kalau daerah lain itu daerah tertular namanya, boleh memasukkan atau mengeluarkan dengan persyaratan dokumen harus lengkap, kalau sudah divaksin ada hasil uji antibodinya. Kalau sudah protektif artinya aman sebenarnya. Kalau antibodinya tinggi, dia tidak mungkin terkena rabies. Sebenarnya aman, tetapi regulasi yang melarang," tambahnya.

Baca: Skor Akhir Persela vs Madura United Perempat Final Piala Presiden 2019, Berikut Cuplikan Golnya

Baca: Singkirkan Pasangan Malaysia, Ganda Putri Indonesia Greysia/Apriyani Juara India Open 2019

Selain itu, pihaknya juga menjelaskan jika nekat membawa Hewan Penular Rabies (HPR) keluar dan masuk Bali bisa dikenakan hukuman pidana maksimal 3 tahun dan denda maksimal Rp 150 juta.

"Tahun 2014 pernah ada orang bawa 4 ekor anjing dan 2 ekor kucing itu tertangkap di Polres Tabanan diserahkan kepada kami, dan kami sidik hingga ke pengadilan dan sudah mendapat keputusan pengadilan. Kalau itu dibawa masuk ke Bali dan kena hukuman 3 bulan percobaan," tuturnya.

Sementara, alur mekanisme pelayanan tindakan karantina pertanian apabila tidak dilengkapi dokumen akan dilakukan penahanan dan diberikan waktu 7 hingga 14 hari untuk melengkapi dokumen.

Jika dalam kurun waktu tidak bisa melengkapi dokumen akan dilakukan penolakan hingga pemusnahan apabila media pembawa tertular hama dan penyakit.(*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved