Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Smart Women

Ni Putu Sri Harta Mimba Rintis Center for International Program

Banyaknya jumlah mahasiswa asing yang belajar ke Bali, mendorong Ni Putu Sri Harta Mimba, SE, Ak, MSi, PhD, merintis Center for International Program

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Banyaknya jumlah mahasiswa asing yang belajar ke Bali, mendorong Ni Putu Sri Harta Mimba, SE, Ak, MSi, PhD, merintis Center for International Program (CIP).

Mimba menyadari betapa pentingnya di Universitas Udayana (Unud), dibangun sebuah wadah yang mampu menjembatani para mahasiswa asing.  

Unud tercatat sebagai perguruan tinggi di Indonesia yang paling banyak menerima mahasiswa internasional. Sekitar 5.000 mahasiswa tercatat terdaftar dalam setiap tahunnya.

Mereka sebagian besar berasal dari negara di Eropa, seperti Jerman, Belanda, Austria, Finlandia, Swedia dan Norwegia.

Beberapa ada juga yang berkewarganegaraan Amerika Serikat dan Australia. Para mahasiswa itu ada yang mengambil program degree, ada pula yang mengambil non-degree, hanya berupa short course.

Sejauh ini sebagian besar di antara mereka mengikuti program short course yang hanya beberapa bulan.

“Sebenarnya CIP ini, unit baru yang dibuat dan dikelola oleh para staf di rektorat, terutama pembantu rektor (PR) IV yang membidangi kerja sama,” ujar Mimba yang juga direktur CIP kepada Tribun Bali di Fakultas Ekonomi, Unud, Jumat (13/2/2015).

Kini program internasional yang sedang dikelola di antaranya, IBSN, BIPAS, BIPA, SIT, DARMASISWA, TROPICAL LIVING, MEDICAL STUDIES, NORCIS dan GOBALI. Keberadaan CIP sedari awal diniatkan untuk merangkul ke sembilan program tersebut.

“Jadi, maksud pembentukannya ya untuk mensinergikan semua itu. Kami memfasilitasi berbagai hal yang diperlukan terkait urusan yang ranahnya internasional,” jelasnya.

Melalui berbagai program itu, istri Ketut Udi Prayudi SE SH MH itu juga mendorong para mahasiswa Unud untuk berani keluar dan mencari pengalaman. Biasanya tawaran beasiswa untuk mahasiswa Unud berupa degree program.

"Jadi bisa untuk mahasiswa yang ingin melanjutkan S2 dan S3. Sederhananya, peranan kami sebagai PR untuk urusan internasional," katanya.

Program internasional di Unud, ada dua jenis. Yaitu yang langsung dibawahi oleh fakultas masing-masing. Lainnya, berupa lintas fakultas dan langsung dipayungi oleh universitas.

Terbentuknya CIP tentu memerlukan perjuangan yang panjang, hingga akhirnya secara resmi dibuka pada November 2013. Jauh sebelum itu, para tim di bawah arahan Mimba sudah mulai bekerja dan mempersiapkan segala hal.

Perjalanan merintis CIP juga terbilang tidak mulus, sebab belum sepenuhnya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, saat itu, sebagian besar orang di lingkungan sekitarnya masih belum banyak mengenal tentang pusat program internasional. 

“International Program juga baru dibangun pada 2008. Barangkali mereka cemas dengan hadirnya CIP. Intinya, unit ini ada bukan untuk membatasi kinerja atau ruang gerak unit kecil lainnya, tapi justru untuk merangkul semua. Karenanya, saya buktikan dulu semuanya,” ujarnya.

Mimba tidak begitu saja menyerah. Head of International Business Study Network (IBSN) UNUD-Germany, 2011-2013 itu terus mencoba meyakinkan tim di sekitarnya, CIP hadir untuk mengembangkan dan memajukan semua. 

“Kendalanya saat itu sebenarnya masih di pendanaan dan lebih ke internal. Tapi saya berpegang teguh, meskipun terbilang baru, itu tidak boleh menjadi dalih untuk tidak maksimal,” ujarnya.

Kalau sudah berani menyandang status internasional, berarti sistem, pengelolaan, dan semuanya harus juga berstandar tingkat dunia, mesti bisa dipertanggungjawabkan.

Pada awalnya, terasa begitu berat bagi Mimba saat meyakinkan semua pihak untuk memusatkan CIP di kampus Unud di bukit. Apalagi kondisi tempat di sekitar bukit saat itu terbilang begitu kering.

Mimba hanya diserahkan tempat di sekitar Fakultas Sastra di Bukit, Jimbaran untuk dikelola, namun dengan catatan gedung yang ada tidak boleh dibongkar.

Kondisi gedung yang cukup memprihatinkan, dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada membuat Mimba berpikir keras mencari jalan terbaiknya.

Atas kerja sama antara tim yang dipimpinnya, disertai berbagai inovasi yang dimilikinya, akhirnya kini Mimba berhasil menyulap tempat itu. Gedung yang dulu terkesan kurang terpelihara, menjadi tempat yang nyaman digunakan.

“Memang lebih mudah ya kalau gedungnya dibongkar saja semua, terus bangun yang baru. Tapi kenyataannya berbeda, ada juga hal-hal kecil seperti daya listrik yang perlu saya perhatikan,” tambahnya. 

Meskipun baru satu tahun berjalan, Mimba merasa sangat bersyukur karena telah terjadi perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat.

Kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri semakin terjalin dengan baik. Bahkan atas pertimbangan tertentu, Mimba dan timnya terpaksa menunda kerja sama dengan beberapa universitas.

“Sekarang kami juga akan menghidupkan kembali MoU yang masih tertidur, maksudnya, kesepakatan yang sudah ditandatangani dan programnya sudah jalan. Hanya saja belum optimal, nah tugas kami sekarang untuk memaksimalkannya,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved