Smart Women
Emik Rintis Bisnis Jamur Bermodal Seribu Baglog
Usaha budidaya jamur tiram yang dirintis sejak dua tahun lalu itu juga melibatkan para petani lokal dari Bangli, Peguyangan, dan Sibang.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Dia tidak pernah lupa menyiram pasir dan mengontrol kondisi rumah jamurnya.
Baglog disusun dengan cara ditidurkan, agar ruang tumbuhnya lebih banyak.
Setelah itu menunggu hingga muncul miselium atau benang putih.
Perlu waktu satu bulan penuh.
"Nah, baru kita bisa panen setiap hari selama tiga bulan," katanya.
Di dalam baglog, terdapat parutan kayu dan mulanya dikunci dengan cincin pipa yang ditutup dengan kapas.
“Setelah melalui sekian tahapan, biasanya jamur akan bermunculan, di bagian depan, belakang dan atasnya. Cara panennya biasa saja, pakai gunting,” ujarnya.
Dia memberi nama usaha budidaya jamur tiram itu BeE Jamur.
Bee berarti lebah, mewakili semangat pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan Provinsi Bali.
BeE Jamur juga bisa diartikan Be Emik Jamur.
Dengan nama BeE, Emik berharap bisa seperti lebah yang menghasilkan madu, rezeki, dan kemakmuran, tidak hanya untuk dirinya sendiri.
“Melainkan juga untuk keluarga, petani, lingkungan, dan tentunya konsumen,” imbuhnya.
Selama ini Emik selalu aktif dan tak kenal lelah itu memasarkan jamur tiramnya ke sejumlah outlet.
Produknya juga laku di sejumlah rumah makan vegetarian.
Selain itu, dia juga masuk ke pasar tradisional, kantor pemerintahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jamur-tiram-emi.jpg)