Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Unik, Tradisi Sesajen Setinggi 2,5 Meter di Pura Samuan Tiga Gianyar

Ada juga nilai spiritualitas lainnya yang dirasakan. Banten pajegan tidak bisa di-suun oleh sembarang orang. Meski harus berjalan 1 km

Tayang:
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Istimewa
Istri Jero Bendesa Desa Desa Pakraman Bedulu saat membawa banten pajegan ke Pura Samuan Tiga, Senin (4/5/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pajegan! Begitu nama banten yang menjulang hingga tingginya mencapai 2,5 meter.

Ini adalah banten yang selalu dipersembahkan oleh sejumlah krama pengempon Pura Samuan Tiga setiap piodalan dan menjadi sebuah tradisi turun-temurun.

Banten pajegan merupakan bentuk persembahan umat Hindu, dalam hal ini krama pengempon Pura Samuan Tiga, sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Makna atau filosofi banten pajegan ini terlihat dari bentuknya yang menjulang seperti gunung.

Makin ke atas makin mengerucut (lancip), dan di atasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti ke hadapan Tuhan sang pencipta alam semesta.

Tinggi rendahnya pajegan tergantung dari keiklasan dan kemampuan dari masing-masing individu.

Karena nilainya tidak diukur dari tinggi atau rendahnya, tapi dari keiklasan hati dalam menunjukkan rasa syukur. Namun rata-rata pajegan memiliki tinggi 2 meter.

Sejak jaman dahulu, menghaturkan banten pajegan ini menjadi tradisi krama pengempon Pura Samuan Tiga.

Paling tidak, 40 pajegan berdiri megah di pelataran pura yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali ini.

Untuk diketahui, Pura Samuan Tiga dalam sejarah Bali tercatat sebagai pura tempat pertemuan berbagai sekte untuk menyatukan persepsi soal tri kahyangan, lahirnya konsep desa pakraman, dan sistem pengairan tradisional bernama subak.

Namun seiring waktu berjalan, kini tidak semua krama pengempon Pura Samuan Tiga menghaturkan pajegan.

Saat ini yang tersisa hanya empat keluarga yang masih setia menjalankan tradisi warisan leluhur tersebut.

"Keluarga saya masih menghaturkan banten pajegan sampai saat ini," ujar Jero Bendesa Desa Pakraman Bedulu, Gusti Ngurah Made Serana, pada Tribun Bali, Senin (4/5/2015).

Menjaga tradisi menjadi alasan di balik kesetiaannya menghaturkan pajegan.

 Leluhurnya jaman dahulu sudah membuat pajegan setiap piodalan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved