Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Unik, Tradisi Sesajen Setinggi 2,5 Meter di Pura Samuan Tiga Gianyar

Ada juga nilai spiritualitas lainnya yang dirasakan. Banten pajegan tidak bisa di-suun oleh sembarang orang. Meski harus berjalan 1 km

Tayang:
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Istimewa
Istri Jero Bendesa Desa Desa Pakraman Bedulu saat membawa banten pajegan ke Pura Samuan Tiga, Senin (4/5/2015). 

"Saya tidak tahu, kami juga tidak tahu dari kapan. Yang jelas sudah turun temurun dari leluhur," kata pria 47 tahun ini.

Ada nilai spiritualitas tinggi dan manfaat niskala yang ia rasakan setiap kali menjelang piodalan.

Kesehatan dan rezeki, dua kata itu menjadi kunci komitmen Jero Bendesa bertahan hingga kini kendati krama yang menghaturkan pajegan kian menyusut jumlahnya.

"Setiap menjelang piodalan keluarga saya sehat semua. Rezeki pun ada. Sugestinya sangat besar sekali, kalau untuk kebaikan kenapa saya tidak pertahankan saja," tuturnya.

Ada juga nilai spiritualitas lainnya yang dirasakan.

Banten pajegan tidak bisa di-suun oleh sembarang orang.

Seperti kehendak Tuhan, siapa yang membuat hanya dia yang bisa membawanya ke pura.

Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya nyuun banten setinggi 2,5 meter yang dibawa dari rumah dengan jarak hampir satu kilo.

Selain tinggi, banten pajegan juga memiliki bobot yang cukup berat. Banten ini berisikan 9 ayam panggang, buah-buahan, dan berbagai jenis jaje.

"Tidak sembarang orang bisa membawa banten pajegan ini. Seperti Tuhan memberikan energi walau yang bersangkutan tidak pernah atau tidak bisa mesuwunan sebelumnya. Ipar saya yang tinggal di Malaysia pernah membuktikannya," kisahnya.

Jero Bendesa mengisahkan banten pajegan selain sebagai wujud terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, juga merupakan bentuk tantangan dari leluhur.

Saat ia menjalani kewajiban tersebut, tantangan kian semakin terasa.

Tantangan yang dimaksudkan adalah apa bisa anak cucu kelak melanjutkan tradisi ini seiring semakin sempitnya ruang karena tekanan ekonomi.

"Makna filosofis di balik banten pajegan adalah untuk menerima tantangan dari leluhur, apa anak cucunya mampu meneruskan tradisi ini atau tidak," ucapnya.

Secara pribadi ia berujar mampu. Ini bisa dibuktikan karena tak sekalipun ia absen dalam membuat banten pajegan sedari dahulu kala.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved