Amokrane Sabet Tewas Ditembak di Bali
Keluarga Amokrane Sabet Datangi RSUP Sanglah, Ini Rencana Pemulangan Jenazahnya
Amokrane adalah pria warga Prancis berusia 49 tahun yang tewas pada 2 Mei 2016 saat penangkapan paksa di kawasan Pantai Berawa, Kecamatan Kuta Utara,
Penulis: I Dewa Made Satya Parama | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -Dua orang Warga Negara Asing (WNA) mendatangi RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, pada pukul 16.00 Wita kemarin untuk mengurus proses pemulangan jenazah Amokrane Sabet.
Amokrane adalah pria warga Prancis berusia 49 tahun yang tewas pada 2 Mei 2016 saat penangkapan paksa di kawasan Pantai Berawa, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Hingga kini jenazah Amokrane masih dititipkan di RSUP Sanglah.
Kabar beredar bahwa jenazah Amok akan dipulangkan ke negaranya pada Jumat (13/5/2016) atau Sabtu (14/5/2016) malam nanti, namun belum ada pihak berwenang yang mengkonfirmasi kabar itu.
Turun dari sebuah mobil warna putih, salah-satu dari dua WNA yang bertubuh tinggi dan berkepala plontos, berjalan dengan tergesa-gesa menuju Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RSUP Sanglah sembari menundukkan kepalanya.
Kedua pria tersebut ditemani oleh seorang staf Konsulat Prancis yang mengenakan baju batik berwarna cokelat.
Beberapa menit sebelumnya juga terlihat memasuki IKF mantan Kapolres Badung, AKBP Tony Binsar Marpaung, yang ditemani beberapa anggotanya.
Saat dimintai keterangan terkait kepulangan jenazah Amokrane Sabet, staf Konsulat Perancis itu enggan berkomentar.
Pria yang tidak menyebutkan namanya itu hanya mengatakan bahwa proses kepulangan jenazah Amok masih dalam tahap pengurusan administrasi.
"Masih dalam proses administrasi," ujar staf konsulat yang fasih berbahasa Indonesia itu saat dicegat di IKF RSUP Sanglah.
Staf konsulat itu juga membenarkan bahwa dua WNA yang datang bersamanya ke RSUP Sanglah merupakan keluarga dari Amokrane.
"Iya saya dari konsulat datang dengan keluarganya," ujar staf itu.
Selama kurang lebih 1 jam berada di dalam ruangan IKF, keluarga Amokrane pun keluar dan memasuki mobil sambil menutupi wajahnya dengan menggunakan selembar kertas putih.
Mereka juga melambaikan tangannya, sepertinya menandakan penolakan terhadap awak media yang hendak mengambil fotonya.
Tak ada sepatah kata pun terucap dari mulut keluarga Amokrane hingga mereka memasuki mobil dan pergi meninggalkan IKF RSUP Sanglah.
Untuk diketahui, Amokrane tewas pada 2 Mei lalu oleh berondongan peluru polisi.
Amok yang bekas atlet tarung bebas profesional mixed martial arts (MMA) dikabarkan kerap bikin onar dan membuat resah masyarakat di wilayah Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Saat didatangi tim kepolisian yang terdiri dari 24 personel pada Senin (2/5) pagi di vilanya di Jalan Pantai Berawa Canggu, Amokrane sebetulnya hendak dijemput untuk diproses hukum akibat ulahnya itu.
Diketahui juga bahwa Amokrane telah melanggar izin tinggal di Bali sejak September 2015.
Ketika terjadi negosiasi untuk membawanya ke kantor polisi, Amok yang membawa sebilah pisau itu mengamuk.
Seorang polisi jadi sasaran amukannya, dan terkena 8 tusukan di tubuhnya sehingga tewas.
Amok akhirnya diberondong 15 tembakan dan tergeletak tewas tak jauh dari vilanya.
Sementara itu, Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi SpF mengatakan bahwa sebelumnya pihaknya sudah mendapatkan informasi dari Polsek Kuta Utara tentang kedatangan staf Konsulat Perancis beserta keluarga Amokrane.
"Kami mendapatkan informasi bahwa pihak Konsulat Perancis datang untuk mengurus pengambilan jenazah Amokrane," ucap Dudut.
Namun dr Dudut tidak bisa memastikan kapan jenazah Amokrane dipulangkan.
Dia juga menjelaskan, hingga kemarin sore jenazah Amokrane masih disemayamkan di ruang jenazah.
"Lihat besok saja bagaimana perkembangannya," tutur Dudut.(*)