Potret Bocah-Bocah Suwung Hidup Dalam Kepungan Sampah

Setiap sore saya ajak anak jalan-jalan, hiburan anak kami hanya sampah

Penulis: Miftachul Huda | Editor: Aloisius H Manggol
Tribun Bali/Rizal Fanany
Anak di TPA Suwung 
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ribuan lalat seketika terpencar saat sebuah kereta bayi yang didorong Ansori (34) membelah jalan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Denpasar. Lalat ini makin banyak saat hari menyongsong petang.
Ansori (34) adalah satu diantara puluhan pemulung yang bekerja di area TPA Suwung. Pria asal Jombang ini sudah bekerja di tempat ini sejak empat tahun lalu.
Dia bekerja pagi hingga sore.
“Kalau sore-sore begini setelah kerja, ngajak anak keliling jalan-jalan di seputaran ini (TPA),” kata Ansori ditemui di TPA Suwung, Kamis (26/5/2016).
Keliling TPA Suwung ini menjadi rutinitas dia selepas kerja bersama buah hatinya Feni Anggraeni yang baru berusia dua tahun. Feni—panggilan putrinya—setiap sore diajak keliling di ‘komplek’ TPA dengan menggunakan kereta bayi yang didorong. Meski bau busuk tercium jelas di tempat ini, ia mengaku tak ada masalah dengan kesehatan anaknya.
“Sudah biasa, bahkan setiap sore saya ajak keliling, ya ini hiburan anak kami,” imbuhnya.
Feni yang baru dilahirkan sejak 10 tahun usia pernikahannya ini mengaku dalam kondisi baik.
“Gak ada masalah dengan sampah, sehat-sehat saja. Semoga selalu sehat,” jelasnyas. Apakah pernah cek kesehatan Feni? “Belum sih,” terangnya.
Bekerja sebagai pemulung dan tinggal di rumah yang jarak dengan gunungan sampah di TPA Suwung hanya beberapa langkah kaki ini terpaksa dilakukan. Karena ‘nyawa’ keluarga ini hanya digantungkan dengan hasil memilah sampah yang bisa dijual ke pengepul.
Ia selalu berdoa agar putrinya selalu dilimpahkan kesehatan, meski dia khawatir akan ancaman kesehatan, dia berharap Tuhan selalu melindungi kesehatan anaknya.
“Mudah-mudahan tidak kena penyakit,” ulasnya.
Sawiyah, seorang ibu muda yang bekerja memulung dan tinggal di kawasan TPA sebeah barat ini menceritakan pengalaman getir yang dialami anak pemulung lain yang terserang infensi paru-paru.
“Ada satu anak umurnya sekitar 3 tahun, anak dari teman saya yang tinggal di sini. Setelah diperiksa dia kena infeksi paru-paru, badannya kurus, sekarang sudah dibawa pulang,” terangnya.
Tempat tinggal Sawiyah yang berada di bedeng-bedeng adalah lokasi paling dekat dengan TPA Suwung dibanding rumah bedeng lainnya. Rumah bedeng dengan tembok TPA hanya berjarak kurang dari empat meter.
“Kalau di komplek sini, ada 20 KK (kepala keluarga) semua memulung, kalau anak-anaknya tinggal di sini juga,” jelasnya.
Dia sendiri juga sudah punya anak, dia memilih untuk memulangkan anaknya dan hidup bersama orangtuanya di Bondowoso.
“Biar sekolah di sana saja, kalau anak-anak di sini gak bisa sekolah,” terangnya. Di tempat tinggalnya ada puluhan anak-anak. Mainan atau hiburan yang didapat untuk bocah-bocah itu hanyalah sampah. Jika beruntung dapat mainan bekas dari tumpukan sampah.
Kadek Adi, 8 tahun adalah satu diantara puluhan anak-anak yang kemarin main diantara tumpukan sampah. Setiap sore dia menghabiskan waktu untuk bermain bersama anak-anak lain di tanah lapang yang seluas dua kali lapangan bola voli yang lokasinya samping utara tembok TPA.
“Sudah biasa main di sini, sudah gak bau lagi,” terangnya yang orangtuanya juga memulung di TPA.
 
Efek Jangka Panjang
Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Ketut Suarjaya mengingatkan, bahaya dari tumpukan sampah dalam skala besar seperti di TPA Suwung sangat mengancam kesehatan anak-anak, khususnya efek jangka panjang.
“Anak-anak tentunya lebih rentan, karena imunitasnya juga beda dengan orang dewasa,” jelasnya.

Lokasi seperti di pinggir TPA membahayakan bagi yang tinggal dalam lingkungan ini.

“Faktor udara yang tidak bagus tentunya bisa menyebabkan infeksi paru-paru, gangguan pernafasan dan lainnya, sedangkan dari pencemaran lingkungannya bisa diare dan beragam penyakit kulit,” terangnya.

Dalam jangka pendek bagi mereka yang sudah terbiasa, tidak terlihat penyakitnya. “Karena ada proses adaptasi, tapi jangka panjang ini yang berbahaya, seperti rokok, kalau jangka pendek belum terlihat, tapi kalau jangka panjang baru terasa,” jelasnya.

Hal ini pula yang terjadi pada anak- anak atau warga TPA Suwung yang saat ini tidak mengeluhkan penyakit.

Untuk jarak ideal agar efek dari tumpukan sampah di TPA aman bagi warga kata dia ada alat khusus, untuk mengukurnya sebuah udara dikatakan bersih atau tidak. “Tapi kalau indikator yang kasat mata bisa dirasakan, ya dari bau,” jelasnya.
Jika dalam radius itu masih tercium bau sampah, maka hal ini berbahaya untuk kesehatan.
Dia menyarankan agar warga yang tinggal di lingkungan TPA Suwung untuk pintar-pintar menjaga higienitas termasuk kebersihan lingkungan.
“Belum secara spesifik kita temukan kasus di sana, karena kalau periksa hanya disebutkan alamat secara umum, tapi kita suatu saat akan turun juga ke sana,” ungkapnya.
Dia juga berharap jika ditemukan kasus seperti infeksi pernapasan pada anak- anak untuk melaporkannya.
Aktivis Perlindungan Anak Bali, Siti Sapura mengatakan, pemerintah harus hadir terkait keberadaan anak- anak dilingkup TPA Suwung. “Kami sangat prihatin dengan kondisi di sana, saya sendiri juga sering ke sana, dan kondisinya memprihatinkan,” jelasnya.
Anak- anak pekerja di TPA yang tinggal dan hidup di lokasi TPA juga perlu diperhatikan. “Akses kesehatan bagi anak- anak harus diprioritaskan,” ungkapnya.
 
4 Tahun TPA Tak Muat Lagi

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali Gde Suarjana mengatakan, kondisi TPA sudah sangat overload. Jika terus-terusan dibiarkan seperti ini, maka empat tahun lagi TPA sudah tidak bisa memuat sampah lagi.“Setiap hari sampah yang masuk ke TPA Suwung sebanyak 1500 ton, dan 11 persennya adalah sampah plastik,” katanya. BLH pernah melakukan riset di TPA Suwung dan TPA di Klungkung.
Jika dipresentasikan sampah tertinggi berasal dari perumahan 74 persen disusul kemudian dari pasar 20 persen dan sampah dari perkantoran 6 persen. Dari jumlah sampah yang ada, sampah basah terbanyak dari kebun 64,06 persen disusul sampah makanan dan plastik basah sama-sama 10,94 persen sisanya sampah lain.
 
Karena itulah diperlukan gerakan bersama oleh masyarakat untuk melakukan pemilahan sebelum dibuang ke TPA.
“Optimalkan pengelolaan rumah tangga dengan 3R (Reduce, Reusde, Recycle) yang sampah organik bisa komposting, yang an-organik bisa dijual ke bank sampah seperti besi, plastik, dengan demikian residu sampah yang terbuang di TPA hanya 13 persen saja,” ungkapnya.

Hal ini selain bisa meminimalisir sampah yang masuk, juga bisa ikut bersama menjaga lingkungan yang bersih dari sampah.

Kata dia, memang memerlukan kesadaran yang tinggi untuk mengurangi sampah terbuang doi TPA, terlebih setiap orang menghasilkan 2 sampai 2,5 kg per hari.

“Jadi setiap orang harus mengelola sampahnya sendiri. Pelaku usaha juga harus mengambil sampah hasil produk mereka, bisa membeli produknya. Undang-undang mengatur hal itu,” jelasnya. Jika hal itu dilakukan, maka kiamat sampah di Bali bisa ditunda kedatangannya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved