Kerangka Jro Wayan Kulit di Tegalan ‘Angker’ Diaben, Keturunan Diminta Bayar Kaul Lidah Manusia!
Petulangan saat ngaben Jro Wayan Kulit ini menggunakan lembu emas
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, NUSA PENIDA- Penduduk Banjar Minggir, Desa Pakraman Ketapang Paibon Klod, Desa Batununggul, Nusa Penida akhirnya melakukan pengabenan terhadap leluhurnya, Jero Wayan Kulit, Sabtu (20/8/2016)
Kerangka Jero Wayan Kulit diaben setelah melalui paruman adat dan dengan perencanaan yang matang.
Seperti diketahui, sudah beratus-ratus tahun lamanya warga setempat tidak menyadari keberadaan kuburan leluhur Jero Wayan Kulit di sebuah tegalan (lahan) kosong.
"Para tetua sebelum melaksanakan upacara ngaben, langsung bertanya ke orang pintar. Terungkap saat upacara ngaben, prati sentanana (keturunan) Jro Wayan Kulit membayar kaul blayag awakul, petulangan berupa lembu berwarna emas. Dari pemikiran para leluhur kami, bahwa blayag yang dimaksud merupakan lidah manusia," terang Ketut Suartina yang juga ketua panitia pengabenan Jro Wayan Kulit.
Setelah minta petunjuk kepada Sulinggih Ida Dukuh Acarya Daksa, blayag awakul yang diminta, bisa diganti dengan banten pemegat lan saur suara dan kunyit yang dibungkus emas sebanyak awakul.
Uniknya, petulangan saat ngaben Jro Wayan Kulit ini menggunakan lembu emas.
Berbeda pada masyarkat umum yang menggunakan petulangan lembu hitam atau putih.

Didalam lembu tersebut juga berisi ikatan kawat emas sebanyak lima titik, yakni di tanduk dan sudut-sudutnya berisi emas dengan total 130 gram.
"Kami berharap melalui upacara ngaben, leluhur kami dapat tempat yang baik. Mudah-mudahan prati sentana (keturunan) beliau di Banjar Minggir diberikan jalan yang baik dan rahayu, " harap Ketut Suartina.
Kisah perjalanan leluhur Banjar Minggir bernama Jro Wayan Kulit, seperti diceritakan Ketut Suartina berawal dari ratusan tahun lalu.
Berdasarkan sumber lontar dari desa setempat, disebutkan Jro Wayan Kulit hijrah ke Banjar Minggir karena berselisih paham dengan saudaranya.
Perselisihan ini memicu gejolak emosi yang tidak bisa dibendung oleh Jro Wayan Kulit dan memutuskan pindah dari wilayah asalnya dan berjalan mengarah ke timur, hingga sampai disebuah wilayah di ujung selatan Nusa Penida bernama Banjar Minggir, Desa Batununggul.
Tidak ada yang tahu kapan dan alasan Jro Wayan Kulit meninggal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ngaben_20160821_193905.jpg)