Dharma Wacana

Turunnya Sang Bhuta Dunggulan di Hari Penyajan, ‘Jangan Mau Menang Sendiri’

Hidup ini adalah sebuah kuruksetra atau medan tempur untuk memenangkan cita-cita kebenaran, dharma.

Turunnya Sang Bhuta Dunggulan di Hari Penyajan, ‘Jangan Mau Menang Sendiri’
TRIBUN BALI
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

Sebab cenderung muncul tujuan mulia, tetapi prosesnya tidak jelas. Bahkan sering hanya sekadar kepentingan ego pribadi.

Maka oleh sebab itu, di era saat ini, ketika semua orang di Penyajan Galungan itu mengkontestasikan egonya, tidak dapat kita bayangkan bagaimana sibuknya dunia ini mengurusi pehelatan-perhelatan, karena setiap orang, setiap komunitas, kelompok hingga soroh mengungkapkan ego-egonya ke ruang publik.

Dengan demikian, yang kita temukan bukan kemuliaan, justru kita mengalami degradasi (kemerosotan).

 Sebab sikap egois di dalam agama Hindu, disebut dengan ahamkara artinya sifat dimana kepentingan pikiran diabdikan untuk kepentingan material (Panca Maha Bhuta).

Ketika orang dirasuki ego Panca Maha Buta, itulah orang disebut dengan Sang Kala.

Jadi dengan demikian, mari kita sekarang menggunakan Hari Raya Galungan dan Kuningan untuk introspeksi diri biar betul-betul menghilangkan sifat Bhuta Amangkurat (rasa ingin berkuasa), Bhuta Dunggulan (ingin menang sendiri), dan Bhuta Galungan (ingin bertengkar saja).

Namun untuk menghilangkan 100 persen sifat Sang Kala Tiga ini sangat sulit. Maka dengan demikian, minimal dikurangi.

Tingkat semarak keberagamaan itu harus seimbang dengan tingkat spiritual manusia. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved