Potret Jembatan Pacung-Panpadan, Khawatir Jatuh, Ada Bunyi ‘Gladag-gledeg’
Antrean kendaraan meramaikan setiap hulu sungai Pacung-Panpadan, Desa Bitera, Gianyar, Bali, Sabtu (12/11/2016).
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Antrean kendaraan meramaikan setiap hulu sungai Pacung-Panpadan, Desa Bitera, Gianyar, Bali, Sabtu (12/11/2016).
Suasana dan kondisi ini hampir setiap hari terjadi.
Sebab pengendara motor harus mengantre ketika akan menyeberang ke setiap sisi sungai.
Baca: Ahli Konstruksi Yakin Daya Tahan Jembatan Pacung-Padpadan Capai 25 Ton
Hal ini karena jembatan darurat selama jembatan utama diperbaiki hanya selebar satu meter.
Pantauan Tribun Bali, tidak sedikit pengendara yang memilih memutar balik.

Pengendara sepeda motor sedang melewati jembatan kayu penghubung jalan bitra-siangan, Gianyar, Bali, Sabtu (12/11/2016). Seringnya terjadi hujan lebat dan air bah membuat pengendara harus lebih waspada saat menyebrangi jembatan ini.
Mereka khawatir dan takut menggunakan jembatan kecil itu ke desa seberang.
Alasannya, setiap melewati jembatan kecil itu selalu terdengar bunyi “gladag-gledeg”.
Sementara perancah jembatan hanya berupa tiga pasang baja karatan.
Masyarakat semakin khawatir ketika hujan turun.
Sebab air sungai di bawah jembatan mengalir deras.
Terlebih lagi di sebelah selatan jembatan merupakan terjunan air, sehingga berbahaya.
Karena itu, banyak pengendara yang enggan menggunakan jembatan ini menyeberang ke desa sebelah.
Mereka lebih memilih memutar arah dan memilih jalur alternatif yang jaraknya mencapai belasan kilometer (km).
Masyarakat hanya merani melewati jembatan ini ketika air sungai surut.
“Kalau melintas jembatan, satu menit sudah sampai. Tetapi daripada nyawa taruhannya, banyak yang cari jalan lain yang justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk sampai di desa seberang. Ini membebankan dari segi ekonomi, tapi mau bagaimana lagi,” ujar Ketut Kariana, warga Desa Bitera.
Masyarakat berharap agar kontraktor Jembatan Pacung-Padpadan bisa menyelesaikan proyek jembatan tepat waktu yaitu November ini.
Mereka juga meminta agar kontraktor tidak lagi menetapkan Detail Engineering Design (DED), supaya konstruksi jembatan tak roboh tersangkut sampah kayu, seperti yang terjadi Jumat (4/11/2016) lalu. (*)