Astaga, Pelajar SMP Ini Nekat Curi Emas dan Uang karena Ingin Punya Motor

Pemuda tersebut diamankan oleh kepolisian, setelah terbukti mencuri emas dan uang tunai milik dua warga di Banjar Sebunibus, Desa Sakti, Nusa Penida.

Astaga, Pelajar SMP Ini Nekat Curi Emas dan Uang karena Ingin Punya Motor
Istimewa
WK ketika dimintai keterangan oleh jajaran Polsek Nusa Penida. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - WK (16), Pelajar SMP asal Nusa Penida, Klungkung harus mendekam di ruang Unit Reskrim Polres Klungkung, Selasa (15/11/2016).

Pemuda tersebut diamankan oleh kepolisian, setelah terbukti mencuri emas dan uang tunai milik dua warga di Banjar Sebunibus, Desa Sakti, Nusa Penida.

Penangkapan terhadap WK bermula dari laporan dua warga Banjar Sebunibus, yakni Nengah Tangkih (57) dan Nyoman Merta (55) yang kehilangan perhiasan emas, Senin (13/11/2016).

Nengah Tangkih melaporkan kehilangan perhiasan emas 4 gram dan sejumlah uang dengan total kerugian sekitar Rp 2,4 Juta.

Sementara, I Nyoman Merta juga melaporkan telah kehilangan uang sebesar Rp 5 juta.

"Dari laporan itu, kami langsung lakukan serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi dan kecurigaan kami tertuju pada WK," ujar Kapolsek Nusa Penida, AKP I Ketut Suastika ketika dikonfirmasi, Selasa (15/11/2016).

Tanpa butuh waktu lama, petugas kepolisian langsung mengamankan WK dikediamannya di Desa Sakti, Nusa Penida, Senin (14/11/2016) sekitar pukul 10.00 Wita. 

WK selama ini memang dikenal sebagai anak yang nakal oleh warga di lingkungannya.

Ia  ditangkap dengan barang bukti  berupa sebuah bros berbentuk kris, uang tunai sebesar Rp 220.000, sebuah sepeda motor jenis Suzuki Satria beserta sepasang velk, dan sepasang tegem (sejenis anting).

"Motifnya ia mencuri karena ingin memiliki sepeda motor. Jadi perhiasan dan uang yang ia curi untuk membeli sepeda motor," Jelas AKP Ketut Suastika.

Karena masih tergolong anak di bawah umur, pihak Polsek Nusa Penida masih mengupayakan mediasi dan pembinaan terhadap pelaku.

Tapi, tidak menutup kemungkinan WK dapat dijerat dengan Pasal 363 ayat (1) ke 5e KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.

"Untuk saat ini pelaku tidak kita tahan. Kita masih upayakan langkah lainnya, karena pelaku masih tergolong dibawah umur," ujar Suastika. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved