Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Konsultasi Psikiater

Orangtua Gengsi Tinggi, Saya Mau Nikah Saja Ribet? Begini Taktik Menghadapinya

Konsultasi Psikiater oleh: Prof Dr Luh Ketut Suryani, SKj. Pembaca bisa mengirimkan pertanyaan ke email: redaksi.tribunbali@gmail.com/ 081337681001

Editor: Irma Yudistirani
ist
ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pertanyaan : Pertanyaan saya ternyata terkait dengan pertanyaan pembaca minggu lalu, Prof. Saya juga ada sedikit kebimbangan dengan rencana pernikahan saya. Tapi saya tidak ragu dengan pilihan ini, saya hanya bingung dengan sikap orangtua. Sempat saya ngambul dengan cara orangtua menanggapi rencana saya ini.

Saya berencana akan melangsungkan pernikahan dalam  waktu dekat. Saya dan pacar sudah lumayan lama berpacaran, dan kami merasa sudah cukup siap. Usia kami juga sudah pantas untuk menikah.

Akhirnya saya pun menyampaikan rencana ini ke orangtua. Pihak dari pacar saya semuanya sudah setuju. Mereka sangat polos Prof. Tapi kendala justru ada di pihak keluarga saya, terutama ayah yang ingin agar semuanya serba bagus.

Sempat rencana saya tidak diterima dengan alasan dana yang belum cukup dan sebagainya. Tapi saya sudah sampaikan jika tidak harus mewah dan glamor, sederhana tidak apa yang penting sepantasnya saja.

Sempat juga diundur-undur, juga dengan alasan yang macam-macam. Nah, karena merasa serba tidak jelas, akhirnya saya tegas mengambil keputusan.

Entah kenapa saya merasa gengsi orangtua terlalu tinggi, sehingga rasanya semuanya seakan rumit, harus begini harus begini. Harus mengundang ini, harus mengundang itu.

Rencana pun terus berubah-ubah, terutama yang berkaitan dengan tanggal pelaksanaan upacara. Saya jadi bingung kalau begini cara mereka. Jika saja bisa dibuat sederhana, saya lebih memilih itu Prof.

Keputusan saya ini tentu bukan karena saya egois harus cepat-cepat menikah tanpa memperhatikan kondisi keluarga. Saya merasa sudah siap dengan segala risiko yang akan kami hadapi berdua.

Hanya saja ya ini Prof, cara orangtua saya. Jadi seakan-akan saya ini menjadi beban. Bahkan sering juga jadinya menyebabkan pertengkaran di dalam keluarga kecil. Bagaimana kalau nanti kurang ini, kurang itu, tidak enak dengan saudara, dll. Begitu yang sering mereka katakan. Saya mengerti hal itu Prof. Tapi kalau terlalu berlebihan, saya jadi tidak bisa menikmati proses ini yang seharusnya menyenangkan.

Bagaimana sebaiknya saya menanggapi situasi ini ya Prof? Tidak mudah rasanya menghadapi keluarga besar karena masing-masing inginnya berbeda. Saya sebenarnya sangat ingin agar proses ini menyenangkan bukan jadi beban. Terimakasih banyak.

Salam

Wayan, Tabanan

Tanggapan Luh Ketut Suryani :

Wayan yang baik, setiap orang mempunyai ujian dalam hidupnya. Ada yang menganggap ujian itu gampang, namun ada juga yang menganggap itu susah. Semua ini tergantung dari kebiasaan kita dari kecil, apakah sering mendapatkan hambatan atau rintangan dalam meraih sesuatu, atau semua itu mulus-mulus saja.

Dari pengalaman inilah akhirnya membuat seseorang bisa menerima apapun yang terjadi selalu dihadapi dengan berusaha menyelesaikan, ataukah setiap ada masalah selalu didahului dengan mengeluh.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved