Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tip Sehat untuk Anda

Waspadai Gagal Ginjal, Terlambat Penanganan bisa Sebabkan Kematian

Keterlambatan deteksi dan penanganan penyakit tersebut menyebabkan prevalensi kematian akibat ginjal kronis di beberapa negara cukup tinggi.

Tayang:
kompas.com
Ilustrasi 

“Kondisi kedua penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Akibatnya, kemampuan organ untuk menyaring ‘limbah’ metabolisme dari darah berkurang,” kata Vassalotti, seperti dikutip livescience.com, Senin (9/3/2015).

Deteksi dini

Dengan paparan di atas, pengobatan yang tepat untuk diabetes melitus dan hipertensi akan meminimalkan risiko gagal ginjal. Selain itu, deteksi dini juga tak ada salahnya dilakukan, sekalipun belum ada gejala gangguan ginjal sama sekali.

Di antara gejala yang perlu diwaspadai sebagai penanda awal gangguan ginjal adalah cepat lelah, nafsu makan menurun, sulit tidur, sering ingin buang air kecil pada malam hari, dan pembengkakan kaki.

Pemeriksaan dini yang bisa ditempuh adalah melalui tes Cystatin C darah di laboratorium. Nilai laju filtrasi glomerulus (FLG) akan diukur di tes ini, dengan menghitung jumlah darah yang disaring glomerulus—bagian ginjal yang berfungsi sebagai penyaring.

Deteksi dini penyakit ginjal kronis juga bisa dilakukan di laboratorium dengan pemeriksaan albumine urine kuantitatif. Tahap paling awal untuk risiko nefropati diabeti—istilah medis untuk penyakit ginjal serius, termasuk dari komplikasi diabetes dan hipertensi—ditandai dengan mikroalbuminuria, yaitu ditemukannya sejumlah kecil protein albumin di dalam urine.

Bila mikroalbuminuria terjadi, artinya ada gangguan stadium dini pada glomerulus ginjal, yang ini masih bisa diobati. Tes ini dilakukan dengan sampel air seni yang telah ditampung selama 24 jam atau rentang waktu tertentu—bila memang tidak memungkinkan pengambilan sampel urine tertampun 24 jam.

Urine yang diambil sewaktu juga bisa menjadi alternatif, tetapi hasil pemeriksaan harus dibandingkan dengan nilai kreatinin— “limbah”  kimia dalam darah yang disaring oleh ginjal dan dibuang ke dalam urine.

Hasil pemeriksaan albumine urine kuantitatif dikatakan normal apabila urin yang ditampung selama 24 jam (mg/24 jam) kurang dari 30, urin ditampung dalam waktu tertentu (mg/menit) < 20, dan urin diambil sewaktu (mg/mg kreatinin) kurang dari 30.

Tes tersebut sebaiknya dilakukan pada masa pubertas atau lima tahun setelah seseorang mendapat diagnosis menderita diabetes melitus tipe satu. Sementara itu, penyandang diabetes melitus tipe dua sebaiknya melakukan pemeriksaan awal segera setelah mendapat didiagnosis, kemudian rutin mengecek urine setahun sekali atau sesuai petunjuk dokter.

Seperti kata pepatah, selalu lebih baik menyiapkan payung sebelum hujan, mencegah sebelum kejadian, memeriksa diri sedini mungkin sebelum sakit tiba. Waspadalah! (*)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved