Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Putri Terlahir Cacat, Kerajaan Belanda Pernah Terguncang Gara-gara Seorang Paranormal

Ketika Putri Mahkota Juliana sedang mengandung anaknya yang keempat, ia menderita rubella atau campak Jerman.

Tayang:
memorix
Keluarga Putri Juliana dan Pangeran Bernard dari Belanda 

Zaman itu komunikasi antarnegara belum secepat sekarang. Orang-orang Belanda mendengarnya dari para turis yang kembali dari Jerman.

Koran Amerika juga memberitakannya dan orang Belanda antre panjang untuk membeli koran asing yang harganya mahal.

Beberapa hari kemudian berita ini tersebar ke seluruh dunia dan rakyat Belanda bisa membacanya di koran mereka sendiri.

Perdana Menteri Willem Drees yang baru menang pemilihan di Belanda mengadakan konferensi pers yang dihadiri 60 wartawan asing.

la menyatakan, yang dilakukan Greet Hofmans tidak melanggar hukum. Wanita itu cuma berdoa, tidak memberi obat. Mustahil orang dilarang berdoa. la mengakui Ratu masih sering menemui Greet Hofmans.

Ratu dipengaruhi Greet Hofmans! Ada suara-suara yang menanyakan kemungkinan Ratu harus turun takhta.

Namun Drees dengan tegas menjawab kemungkinan itu tidak ada. Putri sulung Juliana; Beatrix (kini Ratu Beatrix) waktu itu berumur 18 tahun. la berada di pihak ayahnya.

Sebagian rakyat membicarakan kemungkinan Beatrix naik takhta menggantikan ibunya.

Sementara itu penasihat-penasihat dekat Juliana, di antaranya I.G. van Maasdijk, menuduh Bernhard berusaha menurunkan istrinya dari takhta.

Kata mereka, kalau Beatrix menjadi Ratu, Bernhard bisa memiliki kekuasaan lebih besar. Bukankah putri sulung Ratu ini selalu lebih dekat dengan ayahnya yang menarik itu?

Bernhard sendiri tidak bisa dihubungi. la sedang menghadiri Olimpiade Stockholm.

Untunglah hal itu terjadi tahun 1950-an. Kalau sekarang, di Stockholm pun ia akan bisa dihubungi dengan mudah.

Kebanyakan rakyat Belanda berdiri di pihak Juliana, terutama kaum perempuan. Mereka yakin Juliana bertindak sangat manusiawi.

la mencari segala cara yang mungkin untuk kesembuhan putrinya. Sebagian menuduh Bernhard bersekongkol dengan Der Spiegel. Bukankah pangeran itu bangsawan Jerman?

Bukankah mereka dulu memprotes pertunangan Juliana dengan Bernhard? Mantan Ratu Wilhelmina, yang masih sangat disegani, bertindak sebagai perisai pelindung putri tungalnya.

Pemenang pemilu menolak membentuk pemerintahan

Walaupun pemilihan umum sudah dimenangkan Partai Sosialis, tetapi para pejabat Belanda menolak membentuk pemerintahan sebelum masalah Greet Hofmans dipecahkan.

Soalnya menurut UUD Belanda, raja dan ratu tidak bisa diganggu-gugat. Yang bertanggung jawab harus menteri-menterinya.

Kata salah seorang pejabat pemerintah, "Kalau tidak ada orang yang segera bertindak tegas, tidak lama lagi kita akan menghadapi perceraian dan pemazulan diri."

Juliana tidak mau memazulkan diri dan sebagian besar rakyat Belanda berada di pihaknya. Namun Belanda yang modern, dinamis dan negara industri, tidak boleh tidak memiliki pemerintah.

Akhir Juli 1956, Juliana menyetujui penunjukan tiga negarawan kawakan yang akan memeriksa kasus Greet Hofmans dan memberi saran kepada Ratu serta suaminya.

Salah seorang di antara mereka adalah wakil tetap Belanda di NATO, yaitu A.W.L Tjarda van Starkenborgh Stachouwer.

Ia tidak lain dari mantan gubernur jenderal terakhir di Hindia Belanda. Jadi ia bukan orang asing bagi masyarakat Indonesia masa itu.

Sembilan minggu tidak kedengaran apa-apa. Lalu akhir Agustus, Ratu dan suaminya mengeluarkan pengumuman pendek yang menyatakan ketiga orang bijak itu "sudah melaporkan temuan mereka dan memberi saran kepada kami. Saran-saran mereka sangat berharga dalam memecahkan kesulitan yangtimbul selama ini. Kini kami melangkah ke depan dengan penuh keyakinan."

Media dalam maupun luar negeri melaporkan Juliana tidak akan menemui Greet Hofmans lagi dan tidak akan menghadiri pertemuan-pertemuan keagamaan di Het Oude Loo.

Baron van Heeckeren van Molectan serta ibunya akan keluar dari istana.

Kata orang, krisis sudah berlalu. Putri Mahkota Beatrix pun meninggalkan istana untuk menuntut ilmu di Leiden.

Ini dianggap menunjukkan Ratu tidak akan turun takhta. Namun Juliana marah sekali membaca pemberitaan media yang memberi kesan seakan-akan dia mengalah.

Juliana seorang introvert yang tidak menonjolkan diri. Namun ia memiliki keangkuhan besar. Mustahil seorang ratu dari dinasti Oranje Nassau tunduk kepada tiga penasihat sipil?

Dua minggu setelah pengumuman itu Ratu diketahui masih berkunjung ke pertemuan-pertemuan di Het Oude Loo dan bertemu dengan Greet Hofmans.

Para pengusaha besar di Belanda mendapatkan diri mereka menjadi bahan tertawaan para rekanan dari negara lain karena ratu mereka dianggap berbuat aneh-aneh.

Mereka ingin semua itu dihentikan. Ketiga "orang bijak" juga merasa Juliana ingkar janji. Sementara itu Juliana mengancam akan muncul di televisi guna menjelaskan posisinya kepada rakyat.

PM Willem Drees melarang televisi dan radio menyiarkan pidato Juliana kalau ancaman itu benar-benar dilaksanakan.

Belum pernah Ratu dilarang berbicara kepada rakyatnya. Kini Juliana bukan hanya didesak  oleh para politisi, tetapi juga oleh dunia bisnis.

Sebuah negara modern tidak bisa berfungsi dengan seorang Rasputin di belakang layar

Pemerintah yang permanen akhirnya dibentuk juga. Juliana tetap berdoa dengan Greet Hofmans di Het Oue Loo, meskipun dengan diam-diam.

La bertahan walaupun pidato-pidatonya dimonitor dengan saksama. Sementara itu pernikahan Ratu dengan suaminya boleh dikatakan hanya tinggal di atas kertas.

Di luar dugaan, penglihatan Marijke berangsur lebih baik, berkat perawatan dokter. la bisa bersepeda di jalan raya dan kelihatan normal.

Greet Hofmans pudar sendiri dari perhatian umum. la diminta meninggalkan istana walaupun Juliana tidak pernah mau mencelanya.

Tanpa  banyak dibicarakan orang ia meninggal tahun 1968. Juliana sendiri baru meninggal Maret 2004. (*)

(Seperti pernah dimuat di Buku Kumpulan Kisah Misteri 3 – Intisari)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved