Gunung Agung Terkini

Peringatan Awas, Dr Surono: Letusan Bisa Lebih Besar, atau Bisa Juga Tak Meletus karena Ini

Nama Mbah Rono, demikian dia akrab dipanggil, sangat populer saat erupsi Gunung Merapi, Yogyakarta, pada tahun 2010. Saat itu ia menjabat sebagai Kepa

Tribun Bali/Rizal Fanany/Saiful Rohim
Gunung Agung terlihat di kawasan Desa Rendang,Kabupaten Karangasem,Minggu (24/9/2017) (kiri). Dr Surono DEA, Mantan Kepala PVMBG (kanan) 

Berikut ini hasil wawancara dengan Mbah Rono:

Tribun Bali (TB) : Jika Gunung Agung meletus, kekuatan ledakannya bagaimana menurut bapak?

Surono (S) Kalau yang jadi acuan letusan tahun 1963 ya kira-kira bisa samalah. Tapi bisa juga beda. Bisa lebih kecil atau lebih besar atau malah bisa tidak meletus.

TB: Kenapa bisa saja tidak meletus?

S: Ya kan tidak menjadi ukuran mutlak banyaknya gempa. Kalau sering terjadi gempa, dan gasnya keluar semua ya gak bisa meletus. Banyak parameter yang harus dilihat. Tidak bisa semata dari gempa kemudian dikatakan kekuatan (letusan, red) segini, tidak bisa. Gempa itu kan cuma menandakan bahwa aktivitas gunung api sedang tinggi. Status aktivitas gunung itu tak otomatis jadi rujukan untuk meramal waktu letusan dan dahsyatnya letusan, walaupun aktivitas gempa dan vulkanik di dalam kawah meningkat.

TB: Dari tanda-tanda hasil pantauan aktivitas Gunung Agung yang sempat Bapak ikuti, apakah kira-kira bisa diambil kesimpulan seberapa dekat Gunung Agung akan meletus?

S: Gak bisa. Kan warning atau peringatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang seperti Awas, Siaga, Waspada atau Normal, itu kan bukan untuk meramal kapan gunung akan meletus dan berapa besar letusannya. Meskipun tingkat aktivitas gunungnya semakin tinggi, tetapi apakah itu akan benar-benar menjadi letusan ya tidak tahu. Jadi, sekalipun pergerakan magma disebutkan mulai naik ke atas, apakah itu berarti gunung harus meletus? Ya belum tentu.

TB: Bisa jadi tidak meletus, itu maksudnya bagaimana?

S: Bisa saja hanya meleleh (material vulkaniknya, red). Artinya ya meletus tapi tidak meledak (ibarat) seperti ledakan kompor tetangga.

TB: Kalau seandainya meletus, dampaknya sampai ke mana?

S: Paling tidak dampak langsungnya tidak melebihi radius 9 kilometer dan perluasan sektoral maksimum 12 kilometer dari gunung itu. Ya seperti yang sudah diumumkan (pemerintah) itu. Karena itu, warga di kawasan bahaya itu harus mengungsi semua toh. Jangan berandai-andai di luar (jarak, red) itu. Kalau berandai-andai, salah sudah pasti dan jika benar hanyalah kebetulan.

TB: Pada letusan Gunung Agung tahun 1963 disebutkan bahwa kekuatannya letusan 10 kali lipat dari letusan Gunung Merapi di Yogya tahun 2010. Benar itu pak? Bagaimana kemungkinan kekuatan letusan jika Gunung Agung meletus ?

S: Ya bisa saja lebih besar dari Merapi, dan bisa pula tidak atau bisa lebih kecil. Letusan Merapi saja kan tiba-tiba lebih besar dari letusan-letusan dia yang lalu-lalu. Ya kalau seandainya Gunung Agung meletus dan letusannya seperti sebelumnya, mereka yang mengungsi 9 kilometer atau maksimum 12 kilometer dari gunung ya aman. Jadi kalau sudah mengungsi sesuai rekomendasi ya aman lah.     

  

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved