Pengertian Dan Makna Hari Raya Siwaratri Yang Diyakini Sebagai Malam Hening Peleburan Dosa
Konsep Siwa Ratri tidak hanya begadang semalam suntuk. Tapi bagaimana membangun kesadaran dalam diri.
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Malam atau kegelapan yang dimaksudkan di sini ialah, ketidaktahuan.
Di sinilah Siwa hadir sebagai penunjuk jalan, dari jalan gelap menuju jalan terang atau kebodohan menuju kecerdasan.
Dewa Siwa-lah sebagai agen perubahan itu.
Dewa Siwa sebagai sebuah kekuatan yang menuntun manusia membangun kualitas menjadi yang lebih baik.
Jadi, bukan berarti Siwaratri adalah malam bergadang semalam suntuk, peleburan dosa dan sebagainya.
Kehadiran Siwa tidak hanya terjadi pada malam Siwaratri, tetapi hadir setiap hari.
Malam Siwaratri itu adalah malam untuk menegaskan kembali kehadiran Sang Hyang Siwa dalam diri kita sebagai Siwa Atman.
Sangat disayangkan, kalau malam Siwaratri ini justru dijadikan ajang kontestasi diri, seperti kebut-kebutan di jalan hingga pamer pacar di pura.
Akhirnya, bukan kecemerlangan yang didapatkan, tapi Bhutaratri (kegelapan).
Dalam ajaran Siwaratri, ada sebuah cerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka.
Sebenarnya, ini merupakan cerita dengan makna ‘bersayap’.
Pemburu yang dimaksudkan di sini bukanlah pemburu dalam arti sebenarnya, tetapi yang dimaksudkan adalah pemburu Tuhan sejati.
Kata sato (binatang) dalam cerita itu merupakan makna dari kebenaran.
Itulah sebenarnya yang terjadi.
Jadi Siwaratri bukanlah sekadar bergadang semalam suntuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sembahyang-siwaratri-di-jagatnatha_20160109_095805.jpg)