Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pengertian Dan Makna Hari Raya Siwaratri Yang Diyakini Sebagai Malam Hening Peleburan Dosa

Konsep Siwa Ratri tidak hanya begadang semalam suntuk. Tapi bagaimana membangun kesadaran dalam diri.

Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Ratusan pamedek melaksanakan persembahyangan Siwaratri di Pura Jagatnatha, Denpasar, Jumat (8/1/2016) 

Sehingga saat kita tidak melaksanakan, seakan-akan dosa kita tidak dilebur.

Setelahnya lagi berlumuran dosa.

Percuma juga kan.

Seorang pamedek memercikkan tirta pengelukatan pada teman-temannya sebelum masuk Pura Jagatnatha Denpasar
Seorang pamedek memercikkan tirta pengelukatan pada teman-temannya sebelum masuk Pura Jagatnatha Denpasar (tribun bali)

Konsep Siwa Ratri tidak hanya begadang semalam suntuk.

Tapi bagaimana membangun kesadaran dalam diri.

Begadang adalah jagra, artinya tangiang, waspada, eling, mulat sarira.

Itu saripati dari perayaan Siwa Ratri.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda (TRIBUN BALI)

Inikah Malam Penebusan Dosa?

Siwaratri seperti yang yang sering kita jumpai sebelum-sebelumnya, bukanlah malam yang penuh keheningan, melainkan kebisingan.

Ironis memang, malam yang suci ini justru kerap dijadikan kebut-kebutan di jalan raya hingga pamer pacar di pura.

Sesungguhnya hal tersebut bukanlah suatu wujud perayaan Hari Suci Siwaratri, melain Bhutaratri.

Ketika kita berbicara mengenai Siwaratri, kita harus mengetahui konsepnya.

Dalam aspek ajaran Siwa Sidhanta, Siwa merupakan Tuhan yang memiliki tiga wujud, yakni Parama Siwa, Sadha Siwa dan Siwa Atman.

Sementara dalam ajaran Hindu secara umum, Siwa adalah dewa yang bertugas sebagai pemralina atau pelebur alam semesta beserta isinya.

Sementara Ratri artinya malam atau gelap.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved