Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tempuh Upaya Niskala Warga Mainkan Bale Ganjur Agar Korban Dilepas, Andika Ditemukan 2 KM dari TKP

Sebelum ditemukan, petugas evakuasi sempat frustasi lantaran upaya pencarian tanpa henti mereka tak membuahkan hasil.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali / I Wayan Eri Gunarta
Suasana evakuasi siswa SMPN 2 Ubud yang tenggelam di Sungai Ayung, Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, Bali, Sabtu (10/3/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Korban tenggelam di Sungai Ayung sebelah barat Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, akhirnya ditemukan, Sabtu (10/3) sekitar pukul 10.13 Wita.

Tubuh korban I Komang Andika (12) yang siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ubud ditemukan di aliran Sungai Ayung yang berada di barat Banjar Baung, Desa Sayan atau sekitar dua kilometer (km), dari Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saat ditemukan oleh tim evakuasi, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Jenazah korban ditemukan tersangkut di bebatuan.

Tim evakuasi ini terdiri dari BPBD Gianyar, Balawista Gianyar, Basarnas Bali, Polair Polda Bali dan BNPB Bali.

Mereka melakukan pencarian kurang lebih 17 jam, baik dengan cara menyelam hingga menyisiri kawasan sungai.

Sebelum ditemukan, petugas evakuasi sempat frustasi lantaran upaya pencarian tanpa henti mereka tak membuahkan hasil.

Akhirnya, petugas evakuasi, bersama warga dan pihak keluarga korban menyepakati menempuh jalur pencarian niskala, yakni dengan membunyikan alat gambelan baleganjur dan berkomunikasi secara niskala dengan korban.

Kelian Adat Banjar Kutuh, I Ketut Parsa mengatakan, membunyikan alat gambelan merupakan kepercayaan masyarakat Bali.

Di mana korban yang sulit ditemukan diyakini disembunyikan oleh ‘wong samar’ atau mahkluk gaib.

Kepercayaan tersebut tak mengada-ngada.

Sebab, berdasarkan komunikasi niskala yang dilakukan pihak sekolah SMP Negeri 2 Ubud di TKP dengan korban (lewat temannya sebagai medium atau perantara) mengaku diikat oleh sesosok mahkluk gaib di bawah air.

Korban menangis histeris di sana, tetapi tidak juga dilepas. Karena hal tersebut, gambelan dimainkan.

Menurut Parsa, ‘wong samar’ diyakini sangat menyukai suara gambelan. Ketika mendengarkan suara gambelan, ia akan lupa segalanya, dan akhirnya melepaskan korban.

“Memainkan alat musik gambelan ini atas permintaan orangtua korban, dan kami sendiri juga sangat meyakini tradisi ini. Bahwa, dengan memainkan alat musik gambelan, korban akan dilepas atau dikeluarkan dari air,” ujarnya.

Pantauan Tribun Bali, setelah memainkan alat musik tersebut, keajaiban pun terjadi. Petugas evakuasi yang melakukan penyusuran areal sungai menemukan tubuh korban tersangkut di bebatuan yang berjarak sekitar 2 km dari TKP.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved