Fenomena Seks Pra-Nikah di Bali, Ada Pandangan “Sing Beling Sing Nganten”
Fenomena seks pranikah terjadi karena adanya pergeseran-pergeseran nilai agama di dalam masyarakat
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Aloisius H Manggol
Diungkapkannya, seks bisa menyebabkan kecanduan bagi seseorang yang belum menikah, dan menjadi berbahaya apabila tidak dikontrol, karena tanpa adanya komitmen dan tanggung jawab.
“Kalau dikasi sekali akan minta tambah terus,” imbuhnya.
Beberapa akibat dari seks pranikah kata dia, diantaranya mendukakan Tuhan dan orangtua, kehilangan kesucian diri, dan hamil diluar nikah.
Sementara itu, pembicara lainnya I Gede Suwantana mengatakan seks merupakan hal yang suci.
“Kita dibiasakan menyebut seks adalah dosa, dibiasakan ngomong seks itu adalah musuh. Tetapi saya memahami seks itu adalah sebagai hal yang luar biasa dan suci,” kata Suwantana.
Ia kemudian mengibaratkan seks yang benar itu seperti patung pratima yang disucikan.
Menurutnya, patung pratima biasanya dilinggihkan di dalam pura dan dipayungkan, berbeda dengan patung yang ada dijalanan yang bisa kehujanan dan kepanasan padahal sama-sama berbentuk patung.
“Karena dia suci makanya jangan sembarangan melakukan,” imbuhnya.
Suwantana mengatakan sesungguhnya alat kelamin itu hanyalah sebuah alat dan nafsu seks itu lahir dari pikiran.
Tambahnya, fenomena berhubungan badan antara laki-laki dan perempuan masalahnya ada di pikiran.
Yang perlu digali, kata dia adalah pemahaman tentang salah dan benar karena ada konteks moment.
“Alat kelamin hanya menerima perintah saja,” tandasnya.
Menurutnya, dalam seks pra nikah perempuan selalu dijadikan objek, dan apabila ada untung rugi maka perempuan akan sangat dirugikan.
Dekan Fakultas Dharma Widya IHDN Denpasar, DR. I Made Girinata mengatakan seks sebaiknya tidak dilakukan secara membabi buta hanya untuk memenuhi hawa nafsu.
Ia berharap agar jangan sampai wanita dijadikan eksperimen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-seks-pra-nikah_20180405_184316.jpg)