Terakhir Digunakan dalam Perang Puputan 1908 Silam, Ini Mahkota Lapis Emas Legendaris Raja Klungkung
Mahkota replika tersebut sebelumnya selama 22 tahun tersimpan dalam brangkas, sebelum akhirnya dibuka oleh penglingsir Puri Agung
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Museum Semarajaya di kota Semarapura, Klungkung, ramai dikunjungi wisatawan asing, Kamis (5/4).
Perhatian wisatawan saat itu banyak tertuju pada sebuah foto di Ruang Prasejarah. Ada apa?
Berbagai benda koleksi sejarah museum tampak serius dilihat para turis.
Namun, satu foto di Ruang Prasejarah yang menunjukkan keanggunan mahkota raja-raja di Klungkung membuat perhatian mereka tertahan.
Mahkota tersebut dikenal sangat legendaris di Klungkung, karena berbahan emas dan batu delima berwarna merah. Saat ini, mahkota yang asli disimpan di Museum Nasional Jakarta.
"Wisatawan banyak yang menanyakan di mana mahkota yang asli? Tapi kami sampaikan bahwa mahkota yang asli berada di Museum Nasional Jakarta. Wisatawan sangat tertarik dengan mehkota ini. Mereka sangat ingin melihat wujud fisik dari mahkota ini," ungkap Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Museum Semarajaya Klungkung, Ida Bagus Wibawa Adnyana, Kamis (5/4).
Langkah kaki Bagus Wibawa lalu menuju ke Ruang Prasejarah. Ia sempat menunjukkan foto mahkota raja yang menjadi daya tarik pengunjung selama ini.
Ia menuturkan, sebenarnya Museum Semaraya memiliki koleksi replika mahkota raja yang juga sangat persis dengan aslinya.
Mahkota replika tersebut sebelumnya selama 22 tahun tersimpan dalam brangkas, sebelum akhirnya dibuka oleh penglingsir Puri Agung Klungkung tahun 2016 silam.
Mahkota replika tersebut sangat mirip dengan aslinya, yakni dilapisi emas seberat 30 gram dan batu permata merah delima.
Mahkota replika sebelumnya dibuat oleh seorang maestro di Banjar Sangging, Kamasan, Klungkung.
Dengan alasan keamanan, pihak Dinas Kebudayaan Kungkung tidak berkenan memajang mahkota tersebut di Museum Semarajaya, kendati replika.
"Walau replika, tapi mahkota itu juga berbahan emas 22 karat seberat 30 gram. Sangat persis seperti aslinya. Kita tidak berani pajang itu sebagai koleksi museum karena faktor keamanan. Kita tidak punya petugas keamanan, dan CCTV belum cukup menjamin keberadaan mahkota replika itu aman jika dipajang di museum. Saat ini mahkota replika tersebut kami simpan di brangkas, di suatu tempat dalam keadaan baik dan terawat," ungkap Ida Bagus Wibawa.
Karena banyaknya permintaan pengunjung untuk melihat langsung mahkota raja Klungkung, Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga, tahun 2018 ini akan kembali membuat replika mahkota raja Klungkung.
Namun mahkota dibuat tidak dengan berlapis emas, sehingga dapat dipajang di museum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/replika-mahkota-raja-klungkung_20180406_084918.jpg)