Mara Semringah Bisa Lebih Mudah Ambil Air, BI Bali Berharap Air Bersih Bisa Rangsang Wisata
Batumadeg merupakan dataran tinggi dan cukup kering dengan mata air berada di bawah tebing
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Kendala terbesar PDAM ke wilayah Batumadeg dan Salak ini, kata dia, daya untuk mengangkat air cukup sulit karena jauh berada di bawah di balik tebing.
Perbekel Desa Batumadeg, I Made Mustika menjelaskan, selama ini masyarakat membawa jerigen ke Temeling dan menempuh jarak 3 Km melalui medan terjal dan jauh di tebing.
“Selain jarak, memang medan ke Temeling sangat berat dan curam. Sehingga warga naik turun beberapa kali dan beberapa membeli di PDAM sebanyak 1 tangki dengan harga sekitar Rp 17 ribuan dan dihemat untuk mandi, makan per KK,” jelasnya.
“Ya mandinya di aturlah biar hemat,'" tegurnya.
Pihaknya telah memberitahukan kondisi di Batumadeg, dan meminta diberikan air dari Guyangan, namun ternyata belum bisa maksimal.
Sehingga sumber air yang dibuat oleh KpwBI Bali ini sangat membantu warga di Batumadeg.
“Provinsi sudah mensubsidi air Guyangan, Cuma kan kami pakai waktu atau jadwal tertentu, semisal seminggu sekali atau 2 kali untuk mendapatkannya,” imbuhnya.
Untuk mendapatkan air ini pun, hanya dipasang di keran umum, dan tidak masuk ke rumah warga dan disediakan di masing-masing banjar dinas, sehingga mengambilnya harus ke balai banjar, tidak dialiri langsung ke rumah warga.
Ia pun mengakui sumber air di Batumadeg dari mata air Temeling ini akan dikelola BumDes.
“Airnya kami jual untuk bisa menutupi biaya listrik, lebih murah pastinya kepada warga yang sebagian besar mata pencahariannya petani dan peternak," katanya.
Biaya listriknya, sebut dia, perbulan sekitar Rp 2,5 juta untuk menaikkan dari Temeling ke Batumadeg. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kpwbi-bali-bersama-perbekel-desa_20180717_090551.jpg)