Mara Semringah Bisa Lebih Mudah Ambil Air, BI Bali Berharap Air Bersih Bisa Rangsang Wisata
Batumadeg merupakan dataran tinggi dan cukup kering dengan mata air berada di bawah tebing
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Padahal Nusa Penida dengan luasan sekitar 202 Km2, merupakan wilayah terbesar di Kabupaten Klungkung yang luasnya 315 Km2.
Namun kesulitan air bersih masih menjadi masalah, mengingat topografi dan kondisi gografis Nusa Penida berbukit, berbatu, dan kering.
Kepala Unit PDAM Cabang Nusa Penida, Ketut Narsa, menjelaskan, selama ini pengelolaan mata air di Guyangan memang belum maksimal bisa dimanfaatkan oleh warga Batumadeg.
“Pengelolaan Guyangan masih oleh 3 instansi, kalau dari hulu ada namanya Bali Wilayah Sungai (BWS) untuk produksi naik ke bak-bak. Kemudian dari tengah wilayah UPT Guyangan, yang tugasnya mendistribusikan dari bak ke pipa-pipa jaringan. Kemudian PDAM masuk ke sambungan rumah, dan untuk Batumadeg ini baru sebagian kecil yang kami garap, seperti Penuktuk dan Batumadeg Kaja,” jelasnya.
Pada 2018, kata dia, ada program hibah Pemprov Bali untuk Nusa Penida, dialokasikan khusus Batumadeg mencapai 250an KK dan sedang berjalan.
“Kemudian KpwBI Bali membangun alat pengangkatan air dari mata air Temeling ini sangat membantu wilayah Batumadeg dan sekitarnya seperti Salak,” tegasnya.
Selama ini, lanjut dia, PDAM membeli air curah ke UPT PAM Guyangan sebesar Rp 1.200 permeter kubik, dan didistribusikan kepada masyarakat dengan tarif dasar Rp 1.400 permeter kubik.
Belum meratanya wilayah Batumadeg mendapatkan air bersih, karena PDAM baru mengawali menyalurkan air bersih ke wilayah ini sekitar 2017 lalu.
“Nah makanya 2018 ini, kami mengajukan 250an KK di Batumadeg untuk mendapatkan subsidi dari program hibah provinsi, dari 1.160 KK yang mendapat bantuan dari hibah untuk Nusa Penida,” sebutnya.
Mata air Guyangan, kata dia, selama ini baru mengaliri wilayah 6 desa dengan jaringannya.
Kemudian dari jaringan yang ada, semua bisa teraliri air dari sistem Guyangan namun terbatas, karena ada yang digilir seminggu sekali atau 2 kali seminggu.
“Dan yang dikelola PDAM baru sebatas Desa Klumpu yang kami aliri di 2016, kemudian Batumadeg 2017 diawali,” katanya.
Hanya saja, dengan biaya operasional yang masih tinggi sumber air Temeling ini belum bisa dikelola oleh PDAM.
Ia menyebutkan, air yang diangkat di Batumadeg ini baru 2 liter perdetik, dengan asumsi hitungan PDAM baru bisa mengaliri 200 KK.
“Kalau 200 KK rasanya sulit, untuk bisa mengembalikan biaya operasionalnya,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kpwbi-bali-bersama-perbekel-desa_20180717_090551.jpg)