Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

4 Perilaku yang Pantang Dilakukan Terhadap Perempuan Hamil Menurut Lontar Usadha Tatenger Beling

Dalam Lontar Usadha Tatenger Beling yang dialihbahasakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Tingkat I Bali

Editor: Ady Sucipto
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam Lontar Usadha Tatenger Beling yang dialihbahasakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Tingkat I Bali tahun 1982 disebutkan ada empat kebiasaan atau perilaku yang pantang dilakukan terhadap istri atau orang yang dalam keadaan hamil.

Keempat hal itu yaitu sebagai berikut.

1. Tidak dibenarkan mengagetkan atau menjagakan istri hamil yang sedang tidur lelap.

2. Tidak melangkahi (ngungkulin/ ngecosin) bagian badan manapun pada seorang istri atau orang yang sedang hamil.

Orang yang sedang hamil ketika tidur sedang direstui oleh Sang Hyang Suksma beserta Dewa Kala dan semua roh leluhur dari pihak suami maupun istri.

"Inti hakekatnya semua itu adalah membentuk jiwa sang bayi dalam perut ibu yang mengandung. Ikut juga Dewa Kala Mertiyu dan Sang Hyang Prama Wisesa memberi doa restu," begitu tersurat dalam lontar tersebut.

3. Tidak membayangi orang hamil saat sedang makan, baik nasinya yang dimakan maupun yang sedang makan tidak boleh kena bayangan.

Hal ini menyebabkan kualat atau terkena pastu dari Sang Hyang Suksma dan Dewa Kala beserta roh leluhur.

Akibat yang ditimbulkan menurut lontar ini si bayi bisa meninggal dalam kandungan, bayi sukar keluar dari rahim ibu saat melahirkan, dan bisa juga menyebabkan bayi lahir saat belum waktunya.

4. Tidak memberikan atau memperdengarkan kata-kata kurang sedap, menyakitkan hati, tidak sopan, atau porno saat istri yang hamil sedang makan.

Hal ini dikarenakan saat sang ibu sedang makan, sang bayi dalam kandungan sedang semadi.

Jika hal itu dilakukan bisa menjadi pangkal pengakit berat bagi ibu atau si bayi di kemudian hari.

Disebutkan pula bahwa Sang Hyang Kemit Tuwuh (penjaga umur) dan Sang Hyang Penjaga nyawa tidak menyukai hal itu dan akan menyebabkan penyakit akibat rajah dan tamah (nafsu dan kebodohan). (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved