Ribuan Warga Padati Pasisir Sejak Dini Hari Laksanakan Ritual Banyu Pinaruh
Sejak pagi hari, Minggu (14/10/2018), pantai di sepanjang pesisir Klungkung hingga Padang Bai, Karangsem dipadati oleh warga
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sejak pagi hari, Minggu (14/10/2018), pantai di sepanjang pesisir Klungkung hingga Padang Bai, Karangsem dipadati oleh warga.
Mereka hendak menjalankan ritual banyu pinaruh, yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali.
Seperti yang tampak di Pantai Bias Tugel, Padang Bai, Karangasem.
Sejak dini hari, ribuan warga telah memadati sepanjang garis pantai untuk melukat.
Mereka terlebih dahulu mandi di pantai dan melakukan persembahyangan di pesisir.
"Saya sudah sejak dini hari di sini (Pantai Bias Tigel), bersama teman-teman. Kami bersembahyang di pantai mohon keselamatan dan nanti langsung melukat," ujar I Kadek Sugiawan, warga asal Sidemen, Karangasem
Berdasarkan Bhagavad Gita IV.36, melukat saat Banyu Pinaruh bermakna hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan untuk membersihkan kekotoran atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh umat.
Biasanya umat Hindu Dharma melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai di pagi hari, tepatnya lagi di saat matahari terbit.
Setelah mandi di laut atau sungai, umat berkeramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum.
Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ribuan-warga-melaksankan-ritual-banyu-pinaruh-di-pantai-bias-tugel_20181014_083113.jpg)