Colek Pamor Kini Merambah Tabanan, Guratan Kapur Ada di Palinggih Hingga Merajan
Sontak, fenomena ini pun menjadi perbincangan warga Tabanan khususnya warga Desa Kukuh, Marga.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Eviera Paramita Sandi
Suastika mengatakan, ia melihat colek pamor itu pagi kemarin saat seorang tamu datang ke rumahnya. Tamu itu yang pertama kali melihat adanya guratan putih di pelinggih lebuh.
Kendati demikian, Suastika mengaku biasa saja dalam menghadapi adanya fenomena ini.
"Selama tidak menimbulkan sebuah permasalahan, saya tidak terlalu menanggapi. Tadi pagi di palinggih saya juga ada guratan itu. Situasi di rumah baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Kami anggap itu sebagai anugerah. Sampunan maboya, astungkara ini pesan agar kami sebagai umat selalu meyakini Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jelasnya.
Misteri 13 Tahun Lalu Terulang
Ketua PHDI Buleleng, Dewa Suardana meminta kepada masyarakat agar tidak membahasnya terlalu dalam.
Ia khawatir hal ini akan menimbulkan keresahan. Ia juga meminta fenomena ini dianggap sebagai berkah, bukan mistis.
Fenomena colek pamor pernah terjadi tahun 2005. Warga Bali gempar dengan guratan misterius yang muncul di sanggah merajan.
Motifnya saat itu adalah tapak dara. Dalam keyakinan Hindu, tapak dara lekat dengan simbol swastika yang bermakan keselamatan.
Awalnya fenomena guratan misterius itu muncul di Kabupaten Karangasem dan Buleleng. Namun kian meluas ke wilayah Gianyar, Badung, hingga Tabanan.
Pemilik rumah yang palinggih sanggah merajan mereka berisi tapak dara tak ada yang tahu siapa pelaku atau mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Peristiwa ini umumnya baru diketahui saat pagi hari. Rangkaian kejadian berantai tanpa diketahui siapa pelakunya membuat opini publik mengarah ke aspek niskala.
Terlebih kabarnya pernah ada yang kerauhan saat mencoba menghapus tanda tersebut.
Tak sampai di sana. Sampel pamor sampai dibawa ke Laboratorium Forensik Polda Bali. Namun hasilnya samar.
Goresan ini juga muncul di palangkiran rumah dinas Made Mangku Pastika, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Bali.
Tak ada yang tahu bagaimana hal itu bisa terjadi padahal rumah dinas Kapolda dijaga polisi 24 jam. Pastika pun mengambil hikmah kejadian itu sebagai keajaiban. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/colek-pamor_20181108_135840.jpg)