Bahasa Bali Semakin Tergerus, Orangtua Jarang Mengajarkan, Generasi Muda Enggan Mabasa Bali
Survei dilakukan dengan cara mewawancai secara mendalam sebanyak 51.513 orang di seluruh Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bahasa Bali yang dianggap sebagai bahasa ibu ternyata keberadaanya semakin tergerus di masyarakat.
Para orangtua sudah jarang mengajarkan anaknya bahasa Bali, sementara generasi muda mulai enggan mabasa Bali.
Sebuah survei yang dilaksanakan oleh penyuluh bahasa Bali dengan melihat eksistensi bahasa Bali di masyarakat, beberapa topiknya dalam kategori rendah.
Survei dilakukan sepanjang tahun 2018.
Setiap minggu penyuluh yang berada di desa mendatangi 10 warga sambil melakukan pembinaan.
Hasil survei tersebut salah satunya menyimpulkan bahwa para orangtua, termasuk di desa-desa, ternyata sebagian besar sudah tidak lagi mengajarkan bahasa Bali kepada anak-anaknya.
Survei dilakukan dengan cara mewawancai secara mendalam sebanyak 51.513 orang di seluruh Bali.
Hasilnya, orangtua yang masih mengajarkan anaknya berbahasa Bali hanya 6.514 orang atau 12,73 persen.
Sedangkan yang mengatakan tidak begitu mengajarkan bahasa Bali kepada anak-anaknya yakni sebanyak 20.423 orang atau 39,93 persen.
Sementara yang tidak pernah mengajarkan bahasa Bali kepada anak-anaknya mencapai angka 24.216 orang atau sebanyak 47.34 persen.
Dari data tersebut, penyuluh bahasa Bali menyimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat tidak pernah mengajarkan bahasa atau aksara Bali kepada anak-anaknya.
Mereka hanya diajarkan bahasa Indonesia sejak kecil.
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali, I Nyoman Suka Ardiyasa, mengatakan bahwa survei ini memang riil.
Survei dilakukan untuk pemetaan eksistensi bahasa Bali.
Penyuluh Bahasa Bali setiap minggunya wajib mendatangi 10 keluarga yang ada di desanya masing-masing sembari melakukan pembinaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/peserta-festival-bahasa-bali_20170223_130736.jpg)